Generasi Muda Aceh Diminta Rawat Perdamaian Pasca Konflik
- 24 Jun 2026 02:55 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Generasi muda Aceh diminta terus menjaga dan merawat perdamaian yang telah terbangun sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 2005. Perdamaian dinilai bukan warisan yang dapat diterima begitu saja, melainkan tanggung jawab yang harus diperjuangkan setiap generasi.Ketua Yayasan Rumah Lentera Habibi, Athaya Rumaisha, S.H., mengatakan masyarakat Aceh saat ini telah merasakan kondisi yang jauh lebih aman dan damai dibandingkan masa konflik. Namun, menurutnya, perdamaian tidak hanya dimaknai sebagai tidak adanya kekerasan bersenjata.
“Perdamaian itu bukan hanya soal tidak adanya senjata, tetapi juga bagaimana memastikan keadilan sosial, pendidikan yang merata, dan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat,” ujar Athaya kepada RRI, Minggu 21 Juni 2026..
Ia menilai perempuan Aceh memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan perdamaian. Peran tersebut dijalankan mulai dari lingkungan keluarga hingga melalui berbagai organisasi masyarakat yang memperjuangkan hak perempuan dan anak.
“Perempuan adalah orang pertama yang mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya. Karena itu, perempuan memiliki peran sangat penting dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai perdamaian,” katanya.
Athaya juga menyoroti pentingnya mengenalkan sejarah konflik Aceh kepada generasi muda. Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak bertujuan membuka luka lama, tetapi menjadi sarana agar kesalahan yang sama tidak terulang di masa depan.
“Belajar sejarah konflik bukan untuk membuka luka lama, tetapi membangun kesadaran bahwa konflik sangat menyakitkan dan kita tidak ingin hal itu terjadi lagi,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar bijak menghadapi tantangan baru berupa polarisasi dan ujaran kebencian di media sosial. Menurutnya, konflik tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ruang digital.
“Semua hal yang ada di media sosial belum tentu benar. Karena itu, masyarakat harus lebih bijak dan kritis dalam menggunakan media sosial agar tidak memicu konflik baru,” kata Ataya.
Ia berharap perempuan dan generasi muda terus meningkatkan wawasan, keberdayaan, serta keterlibatan dalam ruang publik agar dapat menjadi penggerak perdamaian yang inklusif di Aceh dan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....