Gejolak Lonjakan Rupiah, Travel Umrah Lamongan Turut Berdampak
- 07 Jun 2026 06:32 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Lamongan - Gejolak ekonomi global yang mendorong penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga avtur mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri perjalanan ibadah umrah dan haji. Sejumlah biro perjalanan di daerah terpaksa melakukan penyesuaian harga paket guna menutupi lonjakan biaya operasional.
Salah satunya Direktur Utama Elaf Travel, Rizky Amelia mengatakan kenaikan kurs dolar menjadi salah satu faktor utama yang memicu meningkatnya biaya penyelenggaraan ibadah umrah. "Dolar yang sebelumnya berada di kisaran Rp16.800, saat ini mencapai sekitar Rp18.100. Dari selisih kurs tersebut saja, membuat tambahan biaya per jemaah bisa mencapai Rp2,8 juta hingga Rp3 juta per orang," katanya, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurutnya, tekanan biaya tidak hanya berasal dari fluktuasi nilai tukar mata uang, tetapi juga dari kenaikan harga avtur yang berdampak langsung pada tarif penerbangan internasional. Ia menjelaskan, kenaikan biaya bahan bakar pesawat telah memengaruhi sejumlah maskapai yang melayani penerbangan umrah.
Penyesuaian biaya pada maskapai Lion Air mencapai sekitar Rp5 juta, Garuda Indonesia sekitar Rp7 juta, sedangkan Saudi Airlines berkisar Rp7,5 juta hingga Rp8 juta. "Kondisi ini membuat penyesuaian harga paket umrah tidak dapat dihindari. Di Elaf Travel, kami melakukan penyesuaian harga paket sebesar Rp4,9 juta dari tarif sebelumnya," ujarnya.
Rizky menambahkan, karakteristik penerbangan umrah dari Surabaya yang mayoritas menggunakan layanan penerbangan langsung (charter) menuju Jeddah atau Madinah tanpa transit turut menyebabkan biaya operasional lebih tinggi dibandingkan keberangkatan melalui Jakarta. Meski demikian, minat masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah dinilai masih cukup stabil.
Berdasarkan data manifest keberangkatan Juli 2026, penurunan jumlah pendaftar hanya sekitar 10 persen. "Alhamdulillah, hingga saat ini tidak ada jemaah yang membatalkan keberangkatan. Mereka memahami kondisi ekonomi global yang sedang terjadi, dan kami tetap berkomitmen menjaga kualitas layanan tanpa mengurangi fasilitas yang sudah dijanjikan," katanya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, pihak biro perjalanan menawarkan sejumlah opsi penyesuaian kepada jemaah yang ingin menekan biaya perjalanan, seperti pengurangan agenda wisata lokal atau penggunaan moda transportasi alternatif selama berada di Arab Saudi. Namun, menurut Rizky, sebagian besar jemaah tetap memilih mempertahankan fasilitas penuh dengan membayar biaya penyesuaian yang diberlakukan.
"Mayoritas jemaah tetap mengutamakan kenyamanan dan kualitas pelayanan selama beribadah. Mereka menilai penyesuaian biaya yang dilakukan masih dalam batas yang wajar dan terjangkau," tuturnya.
Kenaikan biaya umrah akibat penguatan dolar AS dan melonjaknya harga avtur diperkirakan masih akan menjadi tantangan bagi pelaku industri perjalanan ibadah dalam beberapa waktu ke depan. Namun, optimisme tetap terjaga seiring masih tingginya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....