Pindapata, Refleksi Kebajikan Umat Budha
- 31 Mei 2026 11:38 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Pindapata adalah refleksi atas kesediaan umat untuk berbuat kebajikan. Bagi umat Buddha, pindapata merupakan sebuah kewajiban untuk bersedia membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Menurut Good News From Indonesia, Pindapata diartikan sebagai tradisi pengumpulan makanan dengan mangkuk oleh para anggota Sangha dan dilaksanakan dengan cara berjalan kaki, serta membawa mangkuk makanan untuk menerima dana dari umat.
Prosesi Pindapata dilakukan menjelang puncak peringatan Tri Suci Waisak. Pengumpulan makanan dalam prosesi ini umumnya dilakukan di sepanjang jalan pemukiman sekitar vihara lokasi pelaksanaan puncak acara. Diawali dengan pembacaan doa dan lantunan paritta suci.
Kegiatan dipimpin langsung oleh ketua Dewan Sangha. Masing-masing biksu akan membawa wadah berwarna kuning emas dan perak berjalan mengelilingi altar hingga keluar vihara.
Umat Buddha akan berdiri di sepanjang jalan yang dilewati para biksu untuk memberi sedekah. Tidak hanya makanan, sedekah yang diberikan juga berupa uang atau kebutuhan pokok sehari-hari para biksu.
Beberapa umat bahkan ada yang memberikan sandal, minyak goreng, hingga sabun mandi sebagai persembahan. Secara spesifik, sedekah umat kepada biksu menjadi simbol perbuatan baik yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Tradisi pindapata oleh umat setempat mengadopsi kebiasaan masyarakat Buddha yang tinggal di Thailand yang memberikan sedekah kepada biksu setiap hari. Dikutip dari Palelai Buddhist Temple, biksu Buddha dikenal dalam bahasa Pali sebagai ' bhihkku ', yang berarti 'orang yang hidup dari sedekah' dan para biksu yang hidup dari sedekah harus mengevaluasi diri mereka sendiri apakah layak menerima makanan sedekah atau tidak.
Sejak zaman Buddha, masyarakat telah mendukung mereka dengan makanan, jubah, tempat tinggal, dan obat-obatan. Tindakan ini membantu menghubungkan manusia dengan para biksu. Sebagai imbalannya, para biksu memberikan bimbingan kepada mereja tentang ajaran Buddha, sehingga terjalin hubungan yang erat, dan simbiosis antara keduanya.
Untuk diketahui, berdasarkan SKB 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, Waisak 2026 adalah Waisak 2570 BE. Hari Raya Waisak 2026 juga dijadikan sebagai libur nasional, yang jatuh tepat pada hari ini, Minggu, 31 Mei 2026. Tahun ini tema yang diusung adalah "Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan" dengan subtema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia".
Tema ini diharapkan tidak hanya menjadi landasan spiritual, tetapi juga tercermin dalam praktik kehidupan sosial masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan harmoni. Seperti disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, melalui laman resmi Kemenag, bahwa seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Karena itu, kehidupan beragama harus menjadi kekuatan untuk mempererat tali persaudaraan, dan bukan sebaliknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....