UGM dan Dewan Jamu DIY Gaungkan Kembali Budaya Minum Jamu
- 29 Mei 2026 21:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Gerakan Minum Jamu Serentak untuk memperingati Hari Jamu Nasional 2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan ini melibatkan sivitas akademika, tenaga kesehatan, komunitas pecinta jamu, hingga masyarakat umum yang hadir dengan mengenakan pakaian adat tradisional sambil membawa aneka racikan jamu.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menilai jamu memiliki kedekatan historis dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Ia mengaku memiliki pengalaman pribadi yang membuatnya akrab dengan jamu sejak usia dini.
“Saya masih ingat waktu kecil saya tidak doyan makan dan orang tua saya memberi jamu. Dari situ saya mengenal jamu. Pengalaman itu sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita sejak lama,” ucapnya.
Menurut Danang, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa jamu tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Ia menyebut UGM memiliki potensi besar dalam pengembangan riset jamu berkat dukungan 18 fakultas, dua sekolah, serta berbagai pusat studi yang dimiliki kampus tersebut.
Ia menegaskan, pengembangan jamu tidak cukup dipandang hanya dari sisi kesehatan atau medis, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek budaya, lingkungan, serta keberlanjutan bahan baku herbal.
“Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis. Jamu adalah warisan budaya yang hidup di masyarakat. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang luar biasa. Kombinasi ketiganya menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya jamu di Indonesia,” katanya.
Danang menambahkan, sejumlah fakultas di UGM telah berkontribusi dalam pengembangan jamu, di antaranya Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Pertanian, hingga Fakultas Teknologi Pertanian. Kolaborasi lintas disiplin tersebut dinilai penting untuk memperkuat industri jamu nasional agar lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu diperlukan riset yang kuat, standardisasi, sampai advokasi kebijakan agar jamu dapat semakin dipercaya dan dimanfaatkan secara luas,” kata Danang.
Sementara itu, Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, FINASIM, menekankan pentingnya jamu sebagai bagian dari langkah preventif menjaga kesehatan masyarakat. Ia menilai sejumlah penyakit seperti diabetes, hipertensi, asam urat, hingga kanker dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang didukung konsumsi jamu.
Menurut Nyoman, kebiasaan mengonsumsi jamu perlu terus ditanamkan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan pengobatan saat sudah jatuh sakit.
“Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu budaya minum jamu perlu terus diperkuat,” katanya.
Nyoman juga menyoroti besarnya potensi biodiversitas Indonesia yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyayangkan Indonesia masih mengandalkan impor bahan baku obat, padahal tanaman herbal lokal memiliki potensi besar bagi kesehatan masyarakat.
“Kita punya kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih banyak mengimpor bahan obat. Padahal tanaman di sekitar kita menyimpan potensi besar untuk kesehatan masyarakat. Kalau pengembangan jamu berjalan baik, manfaatnya bisa dirasakan untuk kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan,” ujarnya.
Usai sambutan, para peserta bersama-sama mengikuti kegiatan minum jamu di Lapangan Pancasila GSP UGM. Suasana berlangsung meriah dan hangat, sejalan dengan semangat untuk menghidupkan kembali budaya minum jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....