Produksi Susu Lokal Baru Penuhi 23 Persen Kebutuhan Nasional
- 19 Mei 2026 13:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Susu masih menjadi komponen pangan strategis yang tidak hanya berperan penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat, tetapi juga menopang perekonomian rakyat, khususnya peternak sapi perah skala kecil. Namun demikian, industri susu nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya tingkat konsumsi hingga tingginya ketergantungan pada impor bahan baku susu.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan susu nasional diperkirakan akan terus meningkat seiring implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, Aris Haryanto, menilai penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan tersebut. Hal itu disampaikannya terkait hasil lokakarya bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu Lokal” di Auditorium FKH UGM, Senin, 18 Mei 2026.
“Susu adalah komponen pangan strategis dan berperan penting, baik sebagai sumber nutrisi untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat maupun sebagai penggerak ekonomi rakyat. Oleh karena itu, penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak,” kata Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., Senin, 18 Mei 2026 terkait hasil Lokakarya yang bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu Lokal” di Auditorium FKH UGM.
Aris menjelaskan, kapasitas produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 22–23 persen dari total kebutuhan konsumsi susu di Indonesia. Situasi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius, terlebih kebutuhan susu diproyeksikan meningkat pada masa mendatang untuk menopang program MBG.
“Sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas susu lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak sapi perah, terutama untuk rakyat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan peternakan sapi perah rakyat perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan populasi ternak, produktivitas dan kualitas susu, akses pembiayaan, penguatan koperasi, hingga penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP).
Lokakarya tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi sekaligus penguatan tindak lanjut Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry), yang telah berjalan di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Program ini bertujuan meningkatkan produksi dan kualitas susu, meningkatkan pendapatan peternak, serta mengurangi emisi gas metana.
Menurut Aris, Program FRESH telah menghasilkan sejumlah capaian, seperti pemulihan pasca wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), peningkatan kapasitas peternak dan koperasi, dukungan pembiayaan ternak, pengembangan fasilitas susu pasteurisasi, inovasi teknologi reproduksi dan pakan, hingga pemanfaatan energi biogas. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan PT Sarihusada Generasi Mahardika, Danone Ecosystem, PRISMA, dan Yayasan Rumah Energi.
“Capaian pada program FRESH menjadi sebuah bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memberikan dampak positif bagi peternak dan masyarakat luas,” katanya.
Pelaksana Harian Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Boethdy Angkasa, menekankan bahwa peningkatan produktivitas susu nasional membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tidak dapat bergantung pada pemerintah semata.
“Peningkatan produktivitas susu nasional tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Pemerintah tentunya memerlukan sinergi industri, akademisi, koperasi, dan peternak,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Senior Director Public Affairs and Sustainability Danone Indonesia, Karyanto Wibowo. Ia menilai penguatan tata kelola koperasi, kemudahan akses pembiayaan, serta penerapan inovasi di tingkat peternak menjadi faktor penting untuk memperluas dampak positif program pengembangan peternakan rakyat.
“Penguatan tata kelola koperasi, akses pembiayaan, dan adopsi inovasi di tingkat peternak menjadi faktor penting agar program ini dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi kemajuan peternakan rakyat,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....