Hindari Upwellling Berulang, Pemerintah dan Petani di Waduk Cengkelik Cari Solusi

  • 19 Mei 2026 10:39 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Fenomena upwelling kembali terjadi di Waduk Cengklik, Kabupaten Boyolali. Peristiwa naiknya massa air dari dasar waduk ke permukaan itu menyebabkan ribuan ikan budidaya mati dan membuat para petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Anton Sarwono, mengatakan kejadian ini dipicu perubahan cuaca ekstrem. Setelah cuaca panas pada siang hari, hujan deras disertai angin kencang menyebabkan endapan di dasar waduk naik ke permukaan.

Endapan tersebut mengandung amonia tinggi dan kadar oksigen rendah, sehingga ikan mengalami keracunan dan kekurangan oksigen.

Anton menjelaskan, fenomena serupa sebenarnya hampir terjadi setiap tahun. Selain faktor alam yang sulit diprediksi, tingginya endapan sisa pakan dan banyaknya eceng gondok turut memperburuk kondisi perairan.

“ Sisa pakan yang tidak dimakan ikan akan mengendap di dasar waduk dan menghasilkan amonia. Saat terjadi perubahan suhu ekstrem dan angin kencang, massa air bawah yang miskin oksigen naik ke permukaan dan memicu kematian ikan secara massal,” ungkap Anton dalam dialog di RRI Selasa 19 Mei 2026.

Dari hasil pemeriksaan kualitas air, suhu di lokasi mencapai 37,8 derajat Celsius, sementara kadar oksigen hanya 1,9 miligram per liter, jauh di bawah kondisi normal.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pemerintah daerah meminta para pembudidaya mengurangi kepadatan ikan saat cuaca ekstrem, melakukan pemantauan kualitas air secara rutin, serta membersihkan sisa pakan agar tidak menumpuk di dasar waduk.

Petani juga disarankan menggunakan kincir air atau aerator guna meningkatkan kadar oksigen di keramba jaring apung.

Sementara itu, Ketua Jaring Apung Sumber Rezeki Waduk Cengklik, Hartono, mengatakan para petani kini berupaya membersihkan ikan mati dan menata ulang keramba agar budidaya tetap berjalan.

Hartono, mengatakan para petani sebenarnya sudah beberapa kali menghadapi kejadian serupa. Namun, kondisi cuaca yang sulit diprediksi membuat petani kesulitan mengantisipasi sepenuhnya.

Menurut Hartono dan para petani, upwelling dipicu perubahan cuaca ekstrem. Setelah cuaca panas pada siang hari, hujan deras disertai angin kencang membuat air dasar waduk naik ke permukaan.

“Air dari dasar waduk itu membawa endapan yang mengandung amonia tinggi dan minim oksigen. Kondisi tersebut membuat ikan mengalami stres, megap-megap di permukaan air, hingga akhirnya mati massal,” ungkap Hartono .

Selain faktor cuaca, petani juga mengakui banyaknya eceng gondok dan sisa pakan ikan yang mengendap di dasar waduk turut memperburuk kualitas air. Endapan tersebut lama-kelamaan menghasilkan amonia yang berbahaya bagi ikan.

Dalam kejadian kali ini, para petani melihat ikan mulai bergerak tidak normal sebelum akhirnya mati. Bahkan sebagian ikan yang siap panen tidak sempat diselamatkan karena kematian terjadi sangat cepat.

Pasca kejadian, para petani langsung melakukan pembersihan ikan mati agar kualitas air tidak semakin memburuk. Ikan yang masih hidup dipindahkan dan ditata ulang ke keramba lain supaya budidaya tetap berjalan.

Hartono mengatakan, para petani kini lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Mereka mulai rutin memantau kondisi air, mengurangi kepadatan ikan, serta membersihkan sisa pakan agar tidak menumpuk di dasar waduk.

Para pembudidaya juga berharap adanya bantuan dan inovasi dari pemerintah untuk meningkatkan kadar oksigen di perairan dan meminimalisasi dampak upwelling yang terus berulang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....