Integrasi Pengetahuan Tradisional dan Modern dalam Mitigasi Bencana

  • 11 Mei 2026 09:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bencana alam sering kali datang tanpa bisa diprediksi kapan waktu pastinya, namun bukan berarti dampaknya tidak bisa diminimalisasi. Upaya manajemen kebencanaan sejatinya bukan sekadar tentang bagaimana menghentikan ancaman alam, melainkan tentang bagaimana manusia mengelola diri, tata ruang, dan asetnya agar risiko kerusakan serta korban jiwa dapat ditekan sekecil mungkin.

Melalui rekaman siaran program "Kawruh" di RRI Pro 4 Yogyakarta pada Jumat 8 Mei 2026. Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, menegaskan bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Pakar kebencanaan yang akrab disapa Kang ET ini menyebut bahwa mandat tersebut melekat pada setiap individu, bukan hanya dibebankan kepada lembaga pemerintah seperti BNPB atau BPBD.

"Setiap orang punya relung yang bisa dilakukan. Suatu ancaman yang sama, boleh jadi risiko bencananya berbeda karena kapasitas dan kemampuan masing-masing individu juga berbeda. Oleh karena itu, setiap dari kita wajib tahu risiko di tempat tinggalnya dan tahu cara meresponnya," ujar Kang ET.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ancaman bencana selalu meninggalkan jejak tanda, baik dari segi ruang maupun waktu. Di era modern, tanda-tanda ini dapat dipantau mudah melalui teknologi mutakhir, seperti aplikasi Info BMKG untuk cuaca atau Magma Indonesia untuk aktivitas gunung api. Meski demikian, Kang ET juga menyoroti pentingnya merawat kembali kearifan lokal dan pengetahuan tradisional yang mulai tergerus zaman.

"Zaman dulu, mbah-mbah kita memelihara angsa atau anjing sebagai bagian dari peringatan dini lingkungan. Masyarakat di sekitar Merapi dan pedesaan juga memiliki sistem komunikasi tradisional menggunakan kenthongan atau bende. Nada dan ketukannya seperti kenthong titir memiliki makna darurat spesifik yang sudah dipahami bersama oleh warga setempat," katanya.

Terkait ancaman gempa bumi di Yogyakarta yang tidak bisa diprediksi waktunya, Kang ET menekankan bahwa masyarakat sebenarnya sudah bisa mendeteksi ruang kerawanannya. Jalur zona rawan patahan seperti Sesar Opak dan Mataram sudah dipetakan dengan jelas. Menjelang peringatan dua dekade Gempa Jogja 2006, ia mengimbau masyarakat dan instansi untuk kembali mengecek struktur kekuatan bangunan.

Selain kesiapsiagaan struktural, mitigasi bencana ekologis seperti banjir dan krisis air tanah juga menjadi sorotan. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya membuat sumur resapan atau joglangan di pekarangan rumah. Kang ET turut mengutip pesan Sri Sultan Hamengku Buwono X tentang filosofi "wani nandur wiji keli" (berani menanam benih yang mungkin hanyut atau dinikmati orang lain di kemudian hari).

"Dengan membuat sumur resapan, kita menahan aliran air cucuran atap agar tidak langsung menjadi limpasan permukaan penyebab banjir, sekaligus menabung air tanah. Jangan sampai hujan sedikit kebanjiran, tidak hujan sedikit kekeringan," ujarnya.

Sebagai langkah jangka panjang, edukasi kebencanaan yang terintegrasi sejak dini di lingkungan keluarga maupun prasekolah menjadi kunci utama. Edukasi pada anak-anak sering kali terbukti lebih efektif, karena mereka cenderung lebih berani mengingatkan serta "menuntut" orang tuanya untuk ikut mematuhi langkah-langkah siaga bencana di rumah. (auliya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....