Merajut Mimpi dari Benang Sol Sepatu

  • 20 Apr 2026 08:40 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Di sebuah trotoar pinggir jalan Laksmana, Desa Baktiseraga, Buleleng, Bali, seorang pria tampak telaten menusukkan jarum besar ke sepatu yang dipegang. Namanya Putu Subawa Adi Negara (44 tahun).

Putra keempat dari 8 bersaudara itu sebenarnya memiliki keahlian di bidang otomotif. Namun baginya, menjadi tukang sol sepatu bukan sekadar soal mencari nafkah, melainkan soal kebebasan.

Putu Bawa mengaku enggan terikat dengan aturan perusahaan atau perintah atasan. Dengan membuka lapak sol sepatu sendiri, ia memegang kendali penuh atas waktunya.

"Saya tidak mau tergantung sama orang. Kalau ada acara adat atau keluarga, saya bisa libur kapan saja tanpa harus minta izin. Bebas," ungkapnya.

Keputusan untuk berhenti berkeliling dan memilih mangkal (menetap di satu tempat) berdasarkan pertimbangan untuk memudahkan pelanggan menemukan dirinya.

Dulu, ia menyusuri jalanan kota, namun persaingan yang ketat dan fisik yang mulai tak sekuat dulu membuatnya berpikir ulang. Meski dengan mangkal berarti uang tidak langsung didapat seperti saat berkeliling. Bisa jadi sepatu sudah selesai di service tapi pelanggan tidak serta merta mengambilnya.

Saat ditanya soal penghasilan, ia menjawab dengan rendah hati bahwa hasilnya cukup untuk biaya kos, biaya sekolah 4 orang anaknya dan makan sehari-hari, walaupun belum bisa menyisihkan penghasilan untuk ditabung.

Cita-citanya sederhana namun mulia. Ia ingin anak-anaknya lebih maju darinya. Ia sangat bersyukur karena anak Pertamanya kini sudah bekerja di bidang pengolahan makanan di Jepang. Anak Keduanya segera lulus SMA tahun ini, sedangkan anak Ketiga SMA kelas X dan anak Keempat masih menempuh pendidikan di kelas 1 SD.

"Astungkara, yang penting Jalani saja dulu. Biar anak-anak maju, tidak seperti saya," ucapnya.

Meski hanya menggunakan peralatan sederhana seperti jarum, lem, dan benang, Putu sangat menjaga kualitas. Dalam sehari, jumlah sepatu yang ia kerjakan tidak menentu, kadang bisa 5 atau 6 pasang namun kadang sama sekali tidak ada.

Kisah Putu Bawa adalah pengingat bahwa profesi apa pun, jika dijalani dengan kesungguhan dan niat tulus untuk keluarga, akan menjadi berkah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....