Tim KHDTK Unpatti Perkuat Jejaring Kopi Tuni

  • 16 Apr 2026 20:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon : Tim Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Pattimura terus memperkuat langkah strategis dalam pengembangan kawasan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut ditunjukkan melalui serangkaian pertemuan bersama Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku dan Yayasan Kopi Maluku pada 13 dan 16 April 2026.

Pertemuan awal berlangsung di Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura. Tim KHDTK yang terdiri dari Ketua Jurusan Kehutanan Irwanto, Ketua Tim KHDTK Ronny Loppies, Sekretaris Evelin Parera, serta anggota tim berdiskusi bersama perwakilan koperasi, yakni Yulius Wibowo, Andre W. A. Sopulatu, dan Thomas Huwae.

Dalam pertemuan tersebut, Yulius Wibowo memperkenalkan Kopi Tuni sebagai komoditas lokal khas Maluku yang memiliki nilai historis dan budaya kuat. Ia menyebutkan keterkaitan Kopi Tuni dengan Deklarasi Haria Nomor 13, ketika masyarakat menolak menjual kopi kepada Belanda sebagai bentuk perlawanan ekonomi pada masa kolonial.

Selain itu, Yayasan Kopi Maluku memaparkan rencana besar pengembangan Kopi Tuni, meliputi penguatan produksi berbasis masyarakat di tingkat negeri, pembangunan Sekolah Kopi Maluku di Pulau Seram, serta penguatan rantai ekonomi kopi dari hulu hingga hilir.

Ketua Tim KHDTK, Ronny Loppies, menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut. Ia mengusulkan kerja sama formal melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas Pattimura dan Yayasan Kopi Maluku. Menurutnya, dunia pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan Kopi Tuni melalui pendidikan, penelitian, dan konservasi.

Tindak lanjut pertemuan dilakukan pada 16 April 2026 di Cafe Kopi Tuni, dengan menghadirkan Ketua Yayasan Kopi Maluku Marcus Pentury bersama pengurus koperasi.

Dalam kesempatan itu, Marcus Pentury menyampaikan bahwa komunikasi awal terkait pengembangan Kopi Tuni telah dilakukan dengan Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy. Pihak yayasan juga telah berkoordinasi dengan Sinode GPM melalui program “GPM Menanam”, yang turut menjadikan Kopi Tuni sebagai komoditas unggulan.

Kolaborasi ini diharapkan melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, hingga media, serta diperluas dengan melibatkan agregator dan investor. Aspek budaya dinilai menjadi kekuatan utama Kopi Tuni sebagai produk lokal dengan identitas khas Maluku.

Dari sisi akademik, kerja sama ini membuka peluang riset multidisiplin, termasuk kajian indikasi geografis, agroekologi, karakteristik genetik, kualitas cita rasa, sejarah budaya, hingga sistem produksi dan rantai nilai kopi.

Ke depan, agenda lanjutan akan mencakup pertemuan bersama Rektor Universitas Pattimura, Yayasan Kopi Maluku, dan Tim KHDTK untuk membahas penandatanganan MoU. Selain itu, juga direncanakan pertemuan dengan para pemangku kepentingan, seperti Raja Negeri Rutong, UPT Kementerian Kehutanan di Maluku, serta instansi terkait lainnya.

Langkah ini menjadi awal penguatan jejaring kolaboratif dalam pengembangan KHDTK berbasis konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan komoditas unggulan daerah, khususnya Kopi Tuni di Maluku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....