Integrasi Sapi–Sawit Jadi Kunci, tapi Tantangan Implementasi Masih Besar
- 09 Apr 2026 08:41 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Di balik kemegahan pembukaan The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm Conference (ICOP) 2026 di Pekanbaru pada Rabu, 8 April 2026, terselip satu pesan kuat. Indonesia tidak kekurangan konsep, tetapi masih menghadapi tantangan serius dalam implementasi integrasi sapi dan kelapa sawit.
Forum internasional ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas strategi memperkuat ketahanan pangan melalui sistem integrasi sapi–sawit (Siska).
Ketua Panitia, Arifin Budiman Nugraha, menegaskan konferensi ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi dorongan untuk menghasilkan langkah nyata di lapangan.
| Baca juga: ICOP 2026 Digelar di Pekanbaru |
“Selama ini pendekatan integrasi sudah banyak dibahas, namun tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan implementasi yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi. Ia mengakui Riau memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan Siska, namun potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap optimal.
“Integrasi sapi dan sawit bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga menyangkut efisiensi lahan, pengelolaan lingkungan, hingga peningkatan kesejahteraan petani. Persoalannya, belum semua pelaku siap bertransformasi,” katanya.
Riau, sebagai salah satu daerah dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, dinilai memiliki posisi strategis. Namun tanpa dukungan teknologi, pendampingan, dan kebijakan yang tepat sasaran, integrasi ini berisiko berjalan lambat atau bahkan stagnan.
Dari sisi pemerintah pusat, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, menekankan target swasembada daging sapi tidak bisa lagi bergantung pada pola konvensional.
“Integrasi sapi–sawit adalah solusi logis karena memanfaatkan sumber daya lokal. Tapi ini menuntut efisiensi sistem produksi dan perubahan pola pikir pelaku usaha,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan kritik yang lebih tajam. Menurutnya, Indonesia selama ini memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi sering kali gagal dalam pengelolaan yang terintegrasi.
“Masalah kita bukan pada ketersediaan sumber daya, tetapi pada cara mengelolanya. Tanpa integrasi yang nyata, kita akan terus tertinggal dalam membangun ketahanan pangan,” ujarnya.
Konferensi yang berlangsung hingga 9 April 2026 ini juga menghadirkan pakar internasional, seperti Assoc. Prof. Dr. Maja Slingerland dari Wageningen University and Research, yang menekankan pentingnya pendekatan pertanian regeneratif dalam sistem integrasi.
Namun, tantangan terbesar tetap berada di tingkat implementasi: mulai dari kesiapan petani, akses pembiayaan, hingga sinkronisasi kebijakan antar sektor.
ICOP 2026 pun menjadi pengingat integrasi sapi dan kelapa sawit bukan lagi sekadar wacana ilmiah. Tanpa langkah konkret dan kolaborasi lintas sektor yang kuat, konsep ini berpotensi berhenti sebagai diskursus, bukan solusi nyata bagi ketahanan pangan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....