DIY dan Australia Bersinergi, Industri Kulit Siap Mendunia

  • 31 Mar 2026 16:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Pertemuan antara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Duta Besar RI untuk Australia, Dr. Siswo Pramono, berlangsung hangat di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin, 30 Maret 2026. Pertemuan ini menjadi titik awal penguatan kerja sama pengembangan industri kulit antara DIY dan Australia, yang dinilai saling melengkapi dari sisi hulu hingga hilir.

Dalam suasana penuh keakraban, kedua pihak membahas potensi besar kolaborasi antara Australia sebagai penyedia bahan baku kulit berkualitas dengan DIY yang memiliki tradisi kuat serta keahlian dalam pengolahan produk kulit. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas pasar.

Sri Sultan hadir didampingi sejumlah kepala perangkat daerah, antara lain Kepala DPMPTSP DIY Ghofar Ismail, Kepala Disperindag DIY Yuna Pancawati, Kepala Bapperida DIY Danang Setiadi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, serta Paniradya Pati Kaistimewaan DIY Kurniawan. Pertemuan ini juga dihadiri delegasi pelaku usaha kulit dari Australia serta perwakilan Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI), yang semakin memperkuat peluang kerja sama.

Duta Besar RI untuk Australia, Siswo Pramono, menegaskan bahwa kolaborasi ini berangkat dari kebutuhan yang saling melengkapi. Australia memiliki sumber bahan baku kulit yang melimpah, sementara Indonesia, khususnya DIY, unggul dalam pengolahan dan kreativitas produk.

“Hubungan perdagangan sapi antara Australia dan Indonesia sudah sangat maju. Ini menjadi fondasi kuat untuk melangkah lebih jauh ke industri hilirnya,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa gagasan kerja sama ini mendapat respons positif dari Pemerintah Australia. Bahkan, komunikasi telah dilakukan dengan Menteri Perindustrian dan Inovasi Australia terkait potensi kolaborasi dengan DIY sebagai salah satu pusat industri kulit tradisional di Indonesia.

“Gayung bersambut, Pak Gubernur sangat mendukung. Ini peluang besar yang harus kita wujudkan bersama,” katanya.

Kerja sama ini tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru serta mendorong pertumbuhan industri di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Penguatan rantai pasok dari bahan baku hingga produk jadi diyakini akan menciptakan ekosistem industri kulit yang lebih kompetitif, baik di pasar nasional maupun internasional.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menambahkan bahwa sebelum pertemuan dengan Gubernur, delegasi Australia telah meninjau sentra industri kulit lokal, termasuk Ndalem Kulit Jogja. Dari kunjungan tersebut, muncul berbagai peluang kerja sama teknis, seperti pemanfaatan bahan baku kulit jenis wet blue dari Australia untuk produk khas DIY, mulai dari kerajinan hingga wayang kulit.

“Setiap bagian kulit memiliki potensi pemanfaatan berbeda, mulai dari bagian luar hingga dalam. Ini bisa dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tinggi yang khas Jogja. Dukungan penuh dari Pak Gubernur menjadi energi besar untuk merealisasikan kerja sama ini,” kata Yuna.

Dengan semangat saling melengkapi, kolaborasi antara DIY dan Australia di sektor industri kulit ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi antara bahan baku berkualitas dan keterampilan perajin lokal diyakini mampu menciptakan nilai tambah berkelanjutan sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....