Hilal Tak Terlihat di Aceh, Lebaran Idul Fitri 1447 H Ditetapkan 21 Maret
- 19 Mar 2026 20:54 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Aceh Besar - Tim Falakiyah Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Aceh tidak berhasil melihat hilal dalam pemantauan awal Syawal 1447 Hijriah yang dilakukan di Observatorium Tgk Chik Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, Kamis 19 Maret 2026.
Pemantauan hilal tersebut dilakukan untuk menentukan awal Hari Raya Idulfitri. Pantauan RRI Sebanyak enam teleskop dikerahkan dalam pengamatan, termasuk teleskop milik BMKG Stasiun Geofisika Mata Ie Aceh Besar.
Sejak sore hari, cuaca di wilayah Lhoknga sempat diguyur hujan. Meski sempat cerah, posisi bulan tertutup awan tebal sehingga hilal tidak dapat diamati hingga batas akhir waktu pengamatan.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Azhari, mengatakan pemantauan hilal dilakukan di enam titik di seluruh Aceh. Namun, hasilnya menunjukkan hilal belum dapat terlihat.
“Hari ini kita melakukan pengamatan hilal di enam titik di Provinsi Aceh, termasuk di Observatorium Tgk Chik Kuta Karang Lhoknga. Kesimpulannya, hilal tidak nampak,” ujar Azhari.

Ia menjelaskan, secara perhitungan astronomi, posisi hilal di Aceh berada pada ketinggian sekitar 3,1 derajat dengan elongasi 6,1 derajat. Angka tersebut masih berada di bawah kriteria visibilitas hilal yang umumnya dapat diamati, yakni elongasi minimal 6,4 derajat.
“Selain itu, faktor cuaca yang mendung dan berawan tebal juga menjadi penyebab utama hilal tidak terlihat,” tambahnya.
Ketua Tim Falakiyah Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan bahwa posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang disepakati negara-negara Asia Tenggara (MABIMS).
Menurutnya, meski ketinggian hilal di Aceh sudah mencapai sekitar 3,1 derajat, namun elongasi bulan dan matahari hanya 6,1 derajat, masih di bawah ambang batas 6,4 derajat.
“Kondisi ini menyebabkan cahaya matahari lebih dominan dibandingkan pantulan cahaya bulan, sehingga hilal sulit diamati,” jelas Alfirdaus.

Pengamatan hilal tersebut juga turut disaksikan masyarakat serta sejumlah tokoh agama yang hadir di lokasi.
Sementara itu, Pemerintah melalui sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dengan demikian, bulan Ramadan tahun ini digenapkan menjadi 30 hari.
“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” ujar Menteri Agama dalam konferensi pers di Jakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....