Cerita Warga Bengkulu yang Berpuasa di Jerman

  • 02 Mar 2026 09:53 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Jerman - Suara azan magrib dari aplikasi ponsel menjadi penanda berbuka bagi Faiz di sebuah kamar sederhana di Jerman. Momen itu terasa sunyi karena tidak ada aroma masakan dari dapur rumah atau suara ibu yang biasa memanggilnya untuk berbuka.

Canda keluarga yang biasanya mengisi waktu menunggu magrib kini hanya menjadi kenangan bagi Faiz. Ramadhan tahun ini kembali ia jalani seorang diri, ribuan kilometer dari Kota Bengkulu, kampung halaman yang selalu ia rindukan.

Faiz mengaku puasa di perantauan terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat Ramadan di rumah yang penuh kebersamaan, mulai dari sahur, berbuka, hingga tarawih bersama keluarga. Kini, momen-momen itu hanya bisa ia rasakan lewat kenangan dan panggilan video dengan keluarga di kampung halaman.

“Ngerasa kosong banget, karena biasanya kalau di Indonesia sahur, buka puasa, ngabuburit bareng jadi ramadhan kerasa seru bisa di jalani bersama. Kalau di sini di jerman, karena tinggalnya sendiri, apa apa sendiri, masak sendiri, nyiapin sendiri jadi ngerasa sepi aja,” ujarnya.

Kesunyian semakin terasa karena Faiz menjalani puasa di lingkungan mayoritas non-muslim, di mana orang-orang di sekitarnya tetap makan dan minum seperti biasa saat ia menahan lapar dan haus. Ia pun kerap menjelaskan dengan sabar kepada rekan kerja tentang puasanya, yang menjadi latihan kesabaran sekaligus cara berbagi pemahaman tentang ibadah yang dijalaninya.

“Di sini mayoritas non-muslim, jadi mereka tetap makan seperti biasa. Kadang saya harus jelasin pelan-pelan kalau sedang puasa itu jadi latihan sabar juga buat saya,” ujar Faiz, 28 Februarai 2026

Tantangan lain bagi Faiz datang dari perbedaan waktu dan ritme kerja, di mana jadwal sahur dan berbuka kerap berbenturan dengan pekerjaannya sehingga ia harus pandai mengatur waktu. Di awal Ramadhan ia sempat merasakan “culture shock” karena lingkungan dan kebiasaan yang berbeda, namun perlahan ia belajar menyesuaikan diri agar ibadah tetap berjalan lancar.

Hal paling berat bagi Faiz adalah menahan rindu pada momen sederhana Ramadan bersama keluarga, mulai dari tarawih, tadarus, hingga tradisi membuat kue menjelang Lebaran. Kini kebersamaan itu hanya bisa ia saksikan lewat layar ponsel, yang meski singkat tetap menjadi penguat hatinya.

Di balik rasa sepi, Faiz tetap berusaha menjaga semangat Ramadan sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan belajar mensyukuri setiap keadaan. Ia menyadari jarak justru mengajarkannya arti kebersamaan yang sebelumnya terasa biasa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

“Makna ramadan itu sendiri nggak ada yang berubah, karena dimanapun kita menjalani bulan ramadhan ini mesti dengan semangat yang sama dengan makna yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang ingin aku garis bawahi adalah bagaimana kita bisa menghargai setiap momen yang kita rasa termasuk bisa merasakan bulan puasa bersama keluarga,” ujarnya.

Faiz berpesan kepada mereka yang masih bisa menjalani Ramadan bersama keluarga untuk menikmati setiap momennya. Sebab ketika jarak memisahkan, hal-hal sederhana seperti sahur yang disiapkan ibu atau berbuka bersama menjadi kenangan yang sangat berharga.

Ramadan di negeri orang memang tidak selalu mudah, karena jarak membuat kebersamaan terasa sebagai anugerah yang sangat berharga. Ditengah kesunyian perantauan, makna Ramadan tetap hidup melalui kesabaran, doa, dan harapan untuk suatu hari bisa kembali pulang. (s.nab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....