Algoritma, Nurani, dan Masa Depan Jurnalis
- 14 Feb 2026 05:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Perubahan di dunia media berlangsung cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke ruang redaksi: membantu transkripsi wawancara, menyusun ringkasan, bahkan menulis draf berita.
Di tengah perubahan itu, satu pertanyaan penting muncul: ke mana arah jurnalisme ketika mesin ikut mengambil peran Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks bersama host @Unik_oke, Rabu 11 Februari 2026 dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 bertajuk “Jurnalis, AI, dan Masa Depan Media.”
Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Setiawan Hendra Kelana, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah, serta Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Universitas Katolik Soegijapranata. Diskusi berlangsung santai, namun sarat refleksi.
Keduanya sepakat bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar tren teknologi, melainkan realitas baru yang mau tidak mau harus dihadapi oleh insan pers. Setiawan menjelaskan, sebagian jurnalis kini sudah memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan teknis, seperti mentranskrip wawancara atau menyusun kerangka tulisan.
Namun ia menegaskan AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan editorial. Teknologi ini tidak bisa dihindari.
"Tapi yang perlu dijaga adalah batasnya. AI boleh membantu mempercepat kerja, tapi tidak boleh menggantikan proses berpikir, verifikasi, dan tanggung jawab jurnalis,” ujarnya dalam rilis Jumat 13 Februari 2026.
Menurutnya, inti jurnalisme tetap sama: mencari kebenaran, memverifikasi informasi, dan menyajikannya secara berimbang. Nilai-nilai itu tidak bisa diotomatisasi.
“Mesin tidak punya nurani. Ia tidak bisa merasakan dampak sebuah berita terhadap masyarakat. Itu tugas manusia,” tambahnya. Ia juga mengingatkan risiko ketika jurnalis terlalu bergantung pada hasil AI tanpa pengecekan ulang.
Kesalahan data, bias informasi, hingga penyebaran hoaks bisa terjadi jika proses verifikasi diabaikan. Dari sisi akademik, Prof Ridwan menjelaskan AI bekerja dengan mempelajari pola bahasa dari data dalam jumlah sangat besar.
Karena itu, secara teknis AI kini mampu menghasilkan teks yang tampak rapi dan meyakinkan. Namun, ia menekankan bahwa kecerdasan buatan tetap tidak memiliki kesadaran sosial.
“AI itu meniru pola. Ia tidak memahami konteks seperti manusia memahami. Ia tidak punya empati, tidak punya intuisi. Padahal jurnalisme bukan hanya soal struktur kalimat, tapi juga tentang membaca situasi, memahami konflik, dan menangkap sisi kemanusiaan,” jelasnya.
Menurut Ridwan, AI justru idealnya menjadi sparring partner bagi jurnalis: membantu pekerjaan repetitif Ini agar wartawan bisa fokus pada pendalaman isu, wawancara, dan investigasi.
“Kalau jurnalisnya siap dan kritis, AI bisa jadi senjata yang sangat membantu. Tapi kalau manusianya pasif, teknologi justru bisa menyesatkan,” katanya.
Diskusi juga menyinggung perubahan wajah profesi wartawan. Saat ini, jurnalis tidak lagi hanya menulis berita. Mereka dituntut mampu mengambil foto, merekam video, mengedit konten, hingga memahami cara kerja algoritma media sosial.
Setiawan menyebut kondisi ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Menjelang akhir diskusi, kedua narasumber sepakat bahwa masa depan media bukanlah tentang manusia versus mesin.
Menurut dia, yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang sehat, dengan manusia tetap berada di pusat pengambilan keputusan. Peran pers sebagai penjaga ruang publik.
“Kecepatan itu penting, tapi kebenaran jauh lebih penting. Tugas jurnalisme adalah menghadirkan fakta, bukan memperkuat prasangka,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....