DP3AP2KB Lhokseumawe Fokus Pemulihan Psikologis Pemberdayaan Perempuan

  • 02 Feb 2026 20:14 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe-Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Lhokseumawe terus memperkuat upaya pemulihan sosial dan psikologis masyarakat pascabanjir, dengan fokus utama pada perempuan, anak, dan lansia.

Kepala DP3AP2KB Kota Lhokseumawe, Salahuddin, mengatakan bahwa selain program trauma healing, pihaknya juga mendorong penguatan ekonomi berbasis pemberdayaan perempuan melalui kelompok UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor) yang telah terbentuk di seluruh gampong.

“Kelompok UPPKA ini sudah lama ada di setiap desa. Selama ini, setiap ada kegiatan di desa, kami juga melibatkan mereka, misalnya untuk penyediaan konsumsi. Ini bagian dari pemberdayaan perempuan,” ujar Salahuddin, saat dikonfirmasi RRI, Senin 2 januari 2026.

Namun, akibat banjir yang melanda beberapa waktu lalu, banyak kelompok UPPKA ikut terdampak. Sejumlah peralatan usaha seperti kompor dan alat masak rusak atau hilang karena terendam banjir. Untuk itu, DP3AP2KB berharap adanya dukungan dari Baitul Mal maupun Disperindagkop dan UKM agar kelompok usaha perempuan tersebut dapat dibantu kembali.

“Banyak kelompok usaha perempuan ini terdampak. Kami mohon bisa dibantu, karena hampir setiap desa memiliki kelompok usaha tersebut,” katanya.

Di sisi lain, DP3AP2KB juga memprioritaskan pemulihan psikologis masyarakat. Salahuddin menjelaskan, kegiatan trauma healing telah dilaksanakan secara mandiri oleh jajarannya di beberapa desa dan empat kecamatan, meski tanpa dukungan anggaran khusus.

“Kami turun langsung bersama tim DP3A, mengumpulkan ibu-ibu, anak-anak, hingga sekitar 100 orang dalam satu kegiatan. Kita bermain bersama, berinteraksi, untuk mengurangi trauma mereka,” jelasnya.

Program pemulihan psikologis tersebut telah dilaksanakan di Desa Blang Dalam Mamplam, Ujung Pacu, Tanjong, dan Jambo Timu. Ke depan, DP3AP2KB berencana melanjutkan kegiatan serupa pada pertengahan Februari 2026.

Menurut Salahuddin, trauma pascabanjir masih sangat dirasakan warga, terutama perempuan dan lansia yang kini dihantui rasa takut banjir kembali terjadi.

“Secara fisik dan ekonomi mungkin bisa dipulihkan, tapi pemulihan sosial dan psikologis juga sangat penting. Banyak ibu-ibu yang masih trauma,” ungkapnya.

Terkait pembangunan hunian sementara (huntara) oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe, DP3AP2KB memastikan program pemulihan psikologis juga akan menyasar warga di lokasi huntara, khususnya di Kecamatan Muara Satu,

“Kami akan hadir langsung di huntara untuk melakukan kegiatan trauma healing. Selain itu, kami juga akan menggerakkan kader penyuluhan di setiap gampong, yang jumlahnya sekitar tiga hingga lima orang per desa, untuk melakukan pendampingan dari rumah ke rumah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....