Akademisi Jelaskan Penyebab Bencana Hidrometeorologi Aceh

  • 30 Jan 2026 23:05 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Akademisi Dr. Ir. T. Muhammad Zulfikar, S.T., M.P., IPU menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sepanjang 2025. Menurutnya, jenis bencana ini memiliki karakter berbeda dengan tsunami 2004, baik dari penyebab maupun dampaknya.

Dalam perbincangan pada program KHUPIE SARENG PODCAST Episode #28 bersama RRI Banda Aceh, Zulfikar menjelaskan bahwa tsunami dipicu oleh gempa bumi bawah laut yang menyebabkan pergerakan lempeng dan gelombang besar ke daratan. Sementara bencana hidrometeorologi berkaitan erat dengan faktor air, cuaca, dan iklim.

“Bencana hidrometeorologi itu berhubungan dengan hidrologi dan meteorologi, artinya air, hujan, angin, serta iklim,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada 2025 Aceh terdampak fenomena siklon tropis yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin dan intensitas hujan dalam durasi panjang. Kondisi tersebut memperparah situasi di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai yang sebelumnya telah mengalami banjir.

“Pada saat itu, wilayah pesisir Aceh sudah dalam kondisi banjir akibat hujan yang berlangsung lama. Bahkan Banda Aceh juga mengalami banjir,” kata Zulfikar.

Selain wilayah pesisir, daerah yang berada di hilir sungai turut menerima dampak besar. Zulfikar menjelaskan bahwa hulu sungai di wilayah pegunungan menjadi sumber aliran banjir bandang yang mengarah ke kawasan seperti Kuala Simpang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bireuen.

“Hulu sungai itu berada di kawasan pegunungan. Ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan siklon tropis, air dari hulu mengalir ke hilir membawa material,” ujarnya.

Material yang terbawa banjir bandang tidak hanya berupa air, tetapi juga kayu-kayu besar, batu, dan lumpur. Zulfikar menilai banyaknya kayu yang terbawa arus menunjukkan kerusakan hutan di wilayah hulu.

“Kayu-kayu besar yang terbawa arus menandakan hutannya sudah rusak. Air menghantam dan membawa apa pun yang dilewatinya, termasuk rumah-rumah warga,” katanya.

Ia menambahkan, material lumpur yang ikut terbawa banjir memperparah kerusakan permukiman dan infrastruktur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi tidak hanya dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, tetapi juga oleh kerentanan lingkungan dan tata kelola wilayah.

Zulfikar berharap masyarakat dan pemerintah dapat memahami karakter bencana hidrometeorologi secara lebih menyeluruh agar upaya mitigasi dan penanganan ke depan dapat dilakukan secara lebih tepat dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....