Sindrom Asperger Tak Halangi Siham Hamda Bertitel Sarjana
- 29 Jan 2026 15:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Siham Hamda Zaula Mumtaza, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) UGM Angkatan 2019, yang menyandang Autis Asperger atau Sindrom Asperger berhasil melaksanakan ujian skripsi, pada Kamis, 29 Januari 2026. Mahasiswa jalur Bidik Misi asal Jepara ini berhasil mempertahankan skripsinya yang berjudul Tingkah Laku Harian Domba Ekor Tipis di Pusat Penelitian Ternak Fakultas Peternakan UGM.
Ia menyampaikan risetnya di hadapan tim penguji, yakni Prof. Tri Satya Mastuti Widi, Ir. Riyan Nugroho Aji, dan Ir. Hamdani Maulana. Siham mengaku tidak ada persiapan khusus menghadapi ujian skripsi kali ini. Meski ada beberapa revisi ia mengaku lega.
“Ya, agak lega meski ada revisi minor,” ujarnya.
Saudara sepupu Siham, dr. Ika Fenti turut mendampingi proses ujian tersebut. “Sepertinya biasa saja. Gak ada persiapan khusus. Kalau revisi draft skripsi sebelum sidang hari ini memang Siham fokus dan selalu meluangkan waktu,” kata Ika.
Dosen pembimbing skripsi Siham Prof. Tri Satya Mastuti Widi atau biasa disapa Vitri, menjelaskan pendampingan bagi mahasiswanya tersebut memang perlu dengan beberapa penyesuaian. “Anaknya tekun dan serius dalam penelitian, bahkan sangat detail. Hal-hal detail yang mungkin orang terlewat, Siham mampu mengerti dan memahaminya dengan baik,” kata Vitri.
Hanya saja diakui dalam penulisan skripsi perlu lebih lama dalam pembimbingan. Namun, secara keseluruhan, diakui Vitri, tidak ada kendala yang berarti karena motivasinya sendiri sudah sangat bagus.
Selama mendampingi Siham, Vitri menilai supporting system yang banyak berperan adalah dari keluarga. Selain itu, Siham juga sangat aktif di Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM dan menjadi role model.
Siham didiagnosis menderita Autis Asperger sejak SD. Ia tidak bisa mendengar suara keras atau bentakan. Sehari-hari Siham lebih banyak beraktifitas mandiri tidak melibatkan banyak teman. Namun, Fapet UGM memberikan dukungan dengan memfasilitasi supporting system dengan menyediakan buddy (teman) atau mentor sekaligus sosialisasi ke dosen maupun civitas akademika tentang disabilitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....