Disdik Kalteng Dorong Pembentukan Klub Riset di Setiap Sekolah

  • 19 Jan 2026 17:56 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan penguatan kapasitas guru dan peserta didik di bidang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), coding, serta implementasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi fokus kebijakan pendidikan pada 2026. Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, dalam lanjutan rapat koordinasi daring bersama pengawas dan kepala SMA, SMK, serta Sekolah Khusus (SKH) se-Kalimantan Tengah.

Reza menekankan guru harus mulai terbiasa memanfaatkan AI dan coding dalam proses pembelajaran. Menurutnya, penguasaan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar pendidikan di Kalimantan Tengah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tuntutan global.

“Kalau di pusat orang bicara STEM, kita di daerah sudah bicara implementasinya. STEM ini harus berdampak dan punya manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Sabtu, 17 Januari 2026.

Sebagai langkah konkret, Disdik Kalteng mendorong pembentukan Research Club di setiap satuan pendidikan. Melalui wadah ini, setiap sekolah ditargetkan minimal menghasilkan satu riset atau inovasi setiap tahun yang dilakukan oleh peserta didik, dengan guru berperan sebagai pembimbing.

“Untuk riset adalah anak-anak, bukan guru. Guru bertugas membimbing dan mengarahkan sesuai karakter dan potensi sekolah,” katanya.

Untuk jenjang SMA, Reza mendorong kolaborasi lintas mata pelajaran seperti biologi, fisika, dan kimia guna mengembangkan riset berbasis sains. Sementara itu, Sekolah Khusus juga diharapkan mampu menggali keunggulan dan kekhasan peserta didiknya untuk dikembangkan menjadi inovasi bernilai.

Ia mencontohkan pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber riset, seperti pengembangan produk berbasis komoditas daerah. Menurutnya, inovasi dapat lahir dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.

“Di Basarang misalnya, potensi nanas sangat besar. Dulu gula dari tebu, sekarang dari jagung atau stevia, tidak menutup kemungkinan nanti dari nanas,” ucapnya.

Reza juga menekankan pentingnya riset berbasis lingkungan. Ia menyinggung contoh penelitian siswa yang memanfaatkan air gambut dengan sistem katoda dan anoda hingga mampu menyalakan lampu, sebagai bukti bahwa riset dapat dilakukan secara kontekstual dan aplikatif.

Untuk SMK, riset dan inovasi diarahkan pada kompetensi keahlian masing-masing, seperti teknologi jaringan, rekayasa, dan bidang vokasi lainnya. Ia menargetkan penerapan konsep one school one product sebagai standar minimal inovasi.

“Bayangkan jika lebih dari 400 sekolah masing-masing menghasilkan satu produk inovasi setiap tahun. Ini potensi luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Reza mendorong sekolah aktif mempublikasikan hasil inovasi melalui media digital dan media sosial. Ke depan, Disdik Kalteng juga berencana menggelar ajang inovasi secara berkala berbasis zonasi wilayah untuk mempertemukan dan memamerkan hasil riset siswa.

Selain itu, peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan industri juga dibuka melalui pemanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui platform PENA Kalteng, sekolah difasilitasi menjalin kerja sama dengan perusahaan di sekitar wilayahnya guna mendukung riset dan pengembangan inovasi peserta didik. (Disdik Kalteng)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....