Sabar dan Doa, Kunci Utama Mendampingi Anak ADHD
- 17 Jan 2026 11:23 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Menjadi orang tua adalah proses belajar tanpa henti. Namun bagi Ibu Filiyana Chayadi, perjalanan itu memiliki tantangan yang berbeda.
Evan, putra semata wayangnya, didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sejak usia dini. Sejak saat itu, hidupnya dipenuhi dengan penyesuaian, kesabaran, dan cinta yang terus diuji.
Filiyana pertama kali menyadari ada sesuatu yang berbeda saat Evan berusia sekitar dua tahun. Ia melihat putranya sulit berkonsentrasi, sangat aktif, dan sering kesulitan mengendalikan emosi.
| Baca juga: Polres Muba Juara Umum Kapolda Cup VI 2026 |
“Waktu itu dia dipanggil tidak menoleh, tidak ada kontak mata, neneknya juga sering manggil ga ada kontak mata. Akhirnya neneknya bilang bawa saja ke RS Umum, dari sanalah ketahuan bahwa Evan Speed Delay dan ADHD," kata Fili dalam Dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Palembang, Sabtu, 17 Januari 2026.
Saat diagnosis ADHD disampaikan oleh tenaga profesional, perasaan Filiyana bercampur aduk. “Saya kaget, takut, dan bingung. Banyak pertanyaan muncul di kepala saya, apakah saya bisa mendampingi dia dengan benar, apakah masa depannya akan baik-baik saja,” ungkapnya.
Di awal mendampingi Evan, tantangan terbesar baginya adalah menghadapi stigma dan kurangnya pemahaman lingkungan sekitar. “Ada yang bilang Evan nakal, ada juga yang menyalahkan cara saya mendidik. Itu menyakitkan, tapi saya belajar untuk fokus pada anak saya,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa rasa takut dan bingung sempat menghampiri. Namun ia memilih mencari informasi, berkonsultasi dengan ahli, dan bergabung dengan komunitas orang tua anak ADHD, Forkesi.
“Saya sadar, ketakutan saya tidak boleh lebih besar dari kebutuhan Evan, dalam keseharian, hal yang paling menguras emosinya adalah ketika Evan sulit fokus dan emosinya naik turun. Ada hari-hari di mana saya sedang capek dan harus mengulang instruksi berkali-kali. Di situ saya belajar menahan emosi dan terus berdoa,” ungkap Filiyana.
Untuk menjaga kesabaran, Mama membiasakan diri berhenti sejenak sebelum bereaksi. “Saya ingatkan diri sendiri, Evan bukan tidak mau mendengarkan, tapi memang sedang berjuang dengan dirinya sendiri.” katanya.
Ia juga mengakui pernah merasa sangat lelah, bahkan hampir menyerah. “Tapi setiap kali melihat Evan tersenyum atau berusaha, saya tahu saya tidak boleh berhenti. Dia alasan saya bertahan, kekuatan saya adalah doa," tambahnya.
Menurutnya, dukungan yang paling ia butuhkan adalah pemahaman dan penerimaan. Bukan dikasihani, tapi dimengerti. Anak dengan ADHD dan orang tuanya hanya butuh ruang untuk bertumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....