Nuansa Ramadan RRI : Menjelajahi Ragam Tradisi Unik Ramadhan di Aceh Tamiang

  • 15 Mar 2026 19:28 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kabupaten Aceh Tamiang yang terletak di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara selalu menawarkan suasana Ramadhan yang khas melalui perpaduan budaya Aceh dan Melayu yang harmonis. Tradisi di "Bumi Muda Sedia" ini dimulai dengan ritual Meugang yang sangat sakral, di mana warga mempersiapkan hidangan daging sapi dengan bumbu khas Melayu Tamiang yang kaya akan rempah. Berbeda dengan daerah lain, olahan daging di sini sering kali dipadukan dengan cita rasa manis dan gurih, menciptakan aroma menggugah selera yang memenuhi setiap sudut pemukiman warga sejak pagi hari.

Saat matahari mulai terbenam, pusat keramaian beralih ke pasar takjil yang menjamur di kawasan Kualasimpang dan Karang Baru dengan ragam kuliner tradisional yang menggoda. Salah satu keunikan yang paling diburu adalah Bubur Pedas, kuliner legendaris Melayu Tamiang yang hampir hanya bisa ditemukan secara masif selama bulan suci Ramadhan. Bubur ini terbuat dari puluhan jenis dedaunan hutan dan rempah-rempah yang berkhasiat untuk kesehatan, menjadikannya pilihan utama warga sebagai menu pembuka yang menyegarkan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Aktivitas ngabuburit atau menunggu waktu berbuka di Aceh Tamiang juga memiliki daya tarik tersendiri, terutama di kawasan tepian Sungai Tamiang yang menjadi ikon daerah tersebut. Warga biasanya berkumpul di sekitar Titi Kota Kualasimpang untuk menikmati pemandangan aliran sungai yang tenang sambil menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat. Suasana sore yang sejuk dan pemandangan alam yang asri menjadikan lokasi ini sebagai spot favorit bagi keluarga maupun kaum muda untuk bersantai sejenak sebelum suara sirine berbuka dari masjid agung setempat menggema ke seluruh penjuru kota.

Sisi religiusitas masyarakat Aceh Tamiang semakin kental terasa ketika malam tiba, terutama di masjid-masjid yang menyelenggarakan kenduri buka puasa bersama secara rutin. Tradisi berbagi makanan ini menunjukkan tingginya nilai kedermawanan sosial, di mana warga saling mengantar hidangan terbaik mereka untuk dinikmati oleh jamaah maupun musafir yang singgah. Kehangatan ini berlanjut hingga pelaksanaan ibadah shalat Tarawih dan tadarus Al-Qur'an yang diikuti dengan antusias oleh masyarakat, menciptakan harmoni spiritual yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam keberagaman budaya.

Menjelang akhir Ramadhan, pemandangan di desa-desa Aceh Tamiang menjadi semakin indah dengan munculnya tradisi Lampu Colok atau hiasan lampu minyak yang menyala di malam-malam ganjil. Ribuan lampu minyak disusun rapi membentuk miniatur masjid atau kaligrafi di depan rumah warga, memberikan cahaya temaram yang estetik sekaligus menjadi simbol semangat dalam menjemput malam Lailatul Qadar. Tradisi turun-temurun ini tidak hanya mempercantik desa, tetapi juga menjadi ajang kreativitas pemuda setempat dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman yang semakin modern.

Kemeriahan Ramadhan di Aceh Tamiang akhirnya ditutup dengan semangat persaudaraan melalui pawai takbiran yang meriah di sepanjang jalan protokol lintas provinsi. Keramahan penduduknya dan kekayaan tradisi yang ada menjadikan Ramadhan di wilayah ini sebagai pengalaman yang sangat berkesan bagi siapa saja yang mengunjunginya. Dengan perpaduan antara kearifan lokal Melayu dan nilai-nilai keislaman yang kuat, Aceh Tamiang berhasil mempertahankan identitasnya sebagai daerah yang hangat dan penuh toleransi dalam merayakan bulan suci yang penuh kemuliaan ini bagi seluruh umat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....