Ulama Ingatkan Puasa Ramadan sebagai Momentum Memperbaiki Akhlak
- 03 Mar 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Ulama Majelis Dai Kebangsaan, Dedi Supriyadi mengingatkan puasa Ramadan harus menjadi momentum muhasabah dan perbaikan akhlak. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan untuk membentuk ketakwaan sejati.
"Ramadan hadir untuk muhasabah, mengevaluasi diri. Apakah puasa kita sudah mengubah akhlak kita?," ucap Dedi dalam program Syiar Ramadan Jelang Imsak PRO3 RRI, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia mengatakan, takwa bukan hanya simbol ibadah ritual. Takwa harus tercermin dalam perubahan sikap hidup dan perilaku sehari-hari.
| Baca juga: Simak Jadwal Imsak DKI Jakarta 8 Maret 2026 |
Menurutnya, esensi puasa terletak pada transformasi akhlak. “Dari dusta menjadi jujur, dari korup menjadi amanah, dari lalai menjadi peduli,” kata Dedi.
Dedi menyoroti fenomena sosial di tengah masyarakat saat ini. Banyak orang rajin beribadah, namun masih mudah berbohong dan mencela.
"Ada yang sibuk memperbaiki citra, tapi lupa memperbaiki diri. Ada yang mengejar dunia tanpa batas, namun lupa bekal akhirat," ujarnya.
Ia menilai, kondisi masjid yang ramai selama Ramadan, tetapi kembali lengang setelahnya. Media sosial, kata dia, dipenuhi oleh ceramah, namun dalam hati masih keras dan gemar menyalahkan.
Karena itu, Dedi mengajak umat menjadikan Ramadan sebagai ruang evaluasi diri. Muhasabah penting untuk menilai apakah puasa benar-benar mengubah akhlak.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18 tentang perintah bertakwa dan memperhatikan amal untuk hari esok. "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok," ucapnya mengutip Firman Allah SWT tersebut.
Muhasabah, lanjutnya, berarti bertanya pada diri sendiri tentang kualitas ibadah dan kejujuran. Termasuk menjaga shalat, membersihkan harta, serta menahan lisan dari gibah dan fitnah.
"Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Memperbaiki hubungan dengan dan hubungan dengan sesama," kata Dedi.
Zakat, infak, dan sedekah, menurutnya, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ibadah tersebut menjadi terapi membersihkan hati dari kecintaan berlebihan pada dunia.
"Amalan ini bukan sekadar rutinitas. Zakat dan sedekah itu dapat menjadi terapi membersihkan hati dari cinta dunia yang berlebihan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....