Taat Batin Lebih Berat dari Taat Zahir
- 28 Feb 2026 18:05 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Pelaksana Harian Kepala UPTD Pengelolaan Masjid Raya, Tgk. Iskandar, menegaskan bahwa ketaatan dalam Islam tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga menyentuh dimensi batin yang kerap lebih sulit dijalani. Hal itu disampaikannya dalam dialog interaktif bersama RRI Banda Aceh Pro 4, Sabtu 21 Februari 2026.
Menurut Tgk. Iskandar, taat zahir merujuk pada kepatuhan menjalankan perintah Allah SWT secara nyata, seperti melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan berbagai ibadah formal. Namun, taat batin memiliki makna yang lebih dalam.
“Patuh secara batin itu memperbaiki akhlak, baik kepada manusia maupun kepada Allah. Termasuk di dalamnya sabar, ikhlas, serta menjauhi sifat-sifat tercela seperti riya dan sumah,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyakit batin justru menjadi tantangan terbesar karena sering kali tidak disadari. Sifat dengki, dendam, dan sulit memaafkan termasuk bentuk penyakit hati yang harus diwaspadai.
“Yang paling sulit itu penyakit batin. Banyak tanpa kita sadari sudah ada dalam diri,” katanya.
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang pendengar bernama Cutkari menanyakan tanda-tanda seseorang telah mencapai derajat muttaqin, terutama setelah menjalani ibadah puasa. Menanggapi hal itu, Tgk. Iskandar menjelaskan bahwa menjadi muttaqin bukanlah perkara mudah dan membutuhkan proses pembinaan diri yang berkelanjutan.
Ia menyebut, tanda orang muttaqin dapat dilihat dari konsistensinya menjaga diri dari dosa, memperbaiki akhlak, serta meningkatnya kualitas ibadah setelah Ramadan. “Bukan hanya saat puasa, tetapi bagaimana perubahan itu bertahan setelahnya,” jelasnya.
Pendengar lain, Fitri, turut mempertanyakan tentang penyakit hati berupa dendam yang sulit dihilangkan meski sudah berupaya memaafkan. Menurut Tgk. Iskandar, upaya penyembuhan penyakit batin harus dilakukan terus-menerus melalui introspeksi, memperbanyak zikir, serta memperkuat kesadaran bahwa memaafkan adalah bagian dari ketaatan batin.
Ia kembali mengingatkan bahwa tujuan ibadah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Karena itu, usaha memperbaiki lahir dan batin harus berjalan seiring.
“Menuju muttaqin itu perlu usaha. Tidak cukup hanya dengan ibadah zahir, tetapi juga membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....