Makan Kurma saat Puasa: antara Teladan Nabi dan Manfaat Kesehatan
- 27 Feb 2026 09:55 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan adab serta kebiasaan baik dalam berbuka. Salah satu sunnah yang dianjurkan adalah memulai berbuka dengan kurma.
Anjuran ini merujuk pada kebiasaan Nabi Muhammad yang berbuka puasa dengan kurma sebelum melaksanakan salat Maghrib. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, disebutkan bahwa Rasulullah berbuka dengan beberapa butir kurma segar (ruthab). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tidak ada juga, beliau meminum air. Praktik ini kemudian menjadi sunnah yang diikuti umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini.
Kurma bukan sekadar makanan pembuka. Di tanah Arab, buah ini telah lama menjadi sumber nutrisi utama, memulai berbuka dengan kurma mencerminkan kesederhanaan, kemudahan, serta keberkahan dalam menyambut waktu Maghrib.
Sunnah ini juga mengajarkan agar tidak berlebihan saat berbuka, melainkan mendahulukan yang ringan sebelum menyantap makanan utama. Selain itu, kurma memiliki nilai historis yang kuat dalam peradaban Islam. Pohon kurma banyak disebut dalam Al-Qur’an sebagai simbol kebaikan dan karunia Allah.
Dilansir dari berbagai sumber ilmiah, kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang cepat diserap tubuh. Setelah seharian berpuasa, kadar gula darah cenderung menurun. Mengonsumsi kurma membantu mengembalikan energi dengan cepat tanpa membebani sistem pencernaan.
Kurma juga kaya akan serat, kalium, magnesium, dan antioksidan. Kandungan seratnya membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal setelah beristirahat selama berjam-jam. Sementara itu, mineral seperti kalium berperan menjaga keseimbangan elektrolit tubuh.
Ahli gizi menyebutkan bahwa makanan manis alami seperti kurma lebih stabil dalam meningkatkan kadar gula darah dibandingkan makanan tinggi gula olahan. Hal ini membuat sunnah berbuka dengan kurma relevan tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara medis.
Kini, tradisi berbuka dengan kurma tidak hanya dilakukan di Timur Tengah, tetapi juga di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia. Permintaan kurma biasanya meningkat tajam menjelang Ramadan, baik kurma ajwa, sukari, maupun medjool.
Di balik sunnah sederhana ini, tersimpan pelajaran tentang keseimbangan antara ajaran agama dan hikmah kesehatan. Mengikuti teladan Rasulullah dalam hal kecil seperti berbuka dengan kurma menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam sering kali selaras dengan ilmu pengetahuan modern.
Dengan demikian, makan kurma saat berbuka bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan praktik yang sarat makna, baik secara spiritual maupun ilmiah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....