Nobar Piala Dunia 2026 Dongkrak Omzet UMKM Kedai Kopi di Lamongan

  • 17 Jul 2026 19:16 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan - Euforia Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan bagi pecinta sepak bola, tetapi juga membawa dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, maraknya kegiatan nonton bareng (nobar) di berbagai kedai kopi dan warung makan menjadi berkah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Semarak nobar yang berlangsung selama turnamen membuat sejumlah tempat usaha dipadati pengunjung, terutama saat pertandingan digelar pada pagi hari waktu Indonesia. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya penjualan makanan dan minuman di berbagai kedai kopi.

Fenomena itu sejalan dengan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang mencatat perputaran ekonomi nasional selama penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 mencapai lebih dari Rp5,03 triliun. Nilai tersebut berasal dari aktivitas penyiaran, promosi, hingga berbagai kegiatan komersial yang turut menggerakkan sektor usaha di daerah.

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak positif tersebut adalah Fajar Alfaru, pemilik Kedai Kopi Depkes di Lamongan. Ia mengaku jumlah pelanggan meningkat signifikan sejak rutin menggelar acara nonton bareng pertandingan Piala Dunia.

"Alhamdulillah, selama gelaran Piala Dunia 2026 ini kedai kami kebanjiran pengunjung. Jumlah pelanggan yang datang untuk nonton bareng meningkat drastis dibandingkan hari biasa. Meja-meja selalu penuh dan penjualan kopi maupun makanan ringan ikut meningkat. Ini benar-benar menjadi berkah bagi kami pelaku usaha kecil," ujar Fajar, Jumat 17 Juli 2026.

Meningkatnya minat masyarakat mengikuti nobar juga tercermin dalam hasil survei nasional Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia. Survei tersebut menunjukkan sebanyak 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nonton bareng sedikitnya satu kali selama turnamen berlangsung.

Rata-rata pengeluaran masyarakat untuk setiap kegiatan nobar mencapai sekitar Rp51 ribu per orang. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membeli makanan, minuman, serta kebutuhan pendukung lainnya, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan omzet pelaku usaha di sektor kuliner.

Secara nasional, sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) menjadi penyumbang terbesar perputaran ekonomi selama Piala Dunia dengan nilai mencapai sekitar Rp2,4 triliun. Kondisi itu menunjukkan bahwa aktivitas menonton pertandingan secara bersama di ruang publik telah menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, mengatakan ajang olahraga berskala dunia mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional hingga tingkat daerah.

"Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi pemilik merek nasional, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi yang merata bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, hingga UMKM di tingkat kabupaten dan kota," katanya.

Pelaku UMKM juga mengapresiasi tersedianya siaran Piala Dunia secara gratis melalui LPP TVRI sebagai pemegang hak siar resmi di Indonesia. Akses siaran bebas biaya dinilai memudahkan pelaku usaha menggelar nobar untuk menarik pelanggan tanpa terbebani biaya lisensi tambahan.

Melalui meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai daerah, Piala Dunia FIFA 2026 menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi pelaku UMKM serta mendorong pertumbuhan usaha lokal di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Lamongan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....