Hariadi Said, Sepak Bola Dunia Mengalami Turbulensi

  • 14 Jul 2026 14:54 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Piala Dunia selalu identik dengan kejutan. Pada format 32 tim, negara-negara nonunggulan masih mampu menembus dominasi kekuatan tradisional. Costa Rica mencapai perempat final pada 2014 dan baru tersingkir lewat adu penalti 4-3 dari Belanda setelah bermain imbang 0-0 selama 120 menit.

Kroasia melaju hingga final Piala Dunia 2018 sebelum kalah 4-2 dari Prancis. Maroko mencetak sejarah pada 2022 sebagai negara Afrika dan Arab pertama yang mencapai semifinal, meski akhirnya kalah 0-2 dari Prancis.

Ketiga negara ini membuktikan bahwa format lama masih membuka ruang bagi lahirnya kejutan. Lain halnya Piala Dunia 2026 yang menggunakan format baru dengan 48 peserta dengan tujuan memberi kesempatan lebih besar kepada negara-negara berkembang untuk bersaing di level tertinggi.

Piala Dunia kali ini, Empat semifinalis ditempati tim-tim elite sesuai Ranking FIFA 2026 yaitu; Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah peserta tidak otomatis menciptakan pemerataan kualitas. Hal ini menunjukan bahwa persaingan di level tertinggi tetap dikuasai negara-negara dengan tradisi juara, sistem pembinaan yang matang, liga profesional yang kuat, serta dukungan sport science dan teknologi," kata Hariadi Said, Selasa 14 Juli 2026.

Kondisi ini layak disebut sebagai turbulence sepak bola dunia, yaitu perubahan besar dalam sistem kompetisi yang justru memperkuat pola lama, bukan melahirkan keseimbangan baru. Karena itu, evaluasi seharusnya tidak berhenti pada penambahan peserta, tetapi juga menyentuh pemerataan kualitas pembinaan sepak bola di berbagai negara.

Hariadi mengungkapkan, ekspansi Piala Dunia hanya akan memperbesar jumlah peserta, bukan memperbesar peluang lahirnya penantang baru. Pertanyaan adalah: apakah Piala Dunia ingin dikenang sebagai turnamen yang hanya memperbanyak peserta, atau sebagai panggung yang benar-benar mampu melahirkan generasi baru penantang juara dunia.

Sebab sejarah membuktikan, yang membuat dunia jatuh cinta pada Piala Dunia bukan hanya kemenangan para raksasa, melainkan keberanian tim-tim kecil yang mampu mengguncang tatanan sepak bola dunia. Tanpa lahirnya Costa Rica baru, Kroasia baru, atau Maroko baru, Piala Dunia berisiko kehilangan salah satu identitas terbesarnya yaitu, kejutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....