Sukses di APG 2025, Indonesia Fokus Revisi Aturan APSF
- 27 Jan 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kontingen Indonesia meraih sukses dengan menduduki peringkat kedua ASEAN Paragames Thailand, meski sempat menjadi juara umum di edisi sebelumnya. Kepala Bidang Luar Negeri NPC Indonesia Sukanti menilai prestasi ini cukup membanggakan meski ada area untuk perbaikan.
"Pekerjaan rumah utama adalah merevisi aturan teknis APSF setelah insiden dua atlet Thailand di kelas sama memecah diri jadi dua kelas berbeda," kata Sukanti dalam perbincangannya bersama Pro3 RRI, Selasa, 27 Januari 2026. Hal ini dinilai sebagai strategi yang seharusnya tidak diperbolehkan dalam kompetisi olahraga yang adil.
Indonesia berhasil memenangkan voting menjadi tuan rumah Board of Governors Meeting APSF pada 5-7 Juni di Solo. Pertemuan tertinggi ini akan membahas usulan revisi aturan kompetisi dan pemilihan presiden APSF yang baru.
"Tiga negara yaitu Thailand, Malaysia, dan Indonesia sempat bersaing ketat menjadi tuan rumah pertemuan penting tersebut. Kemenangan Indonesia melalui proses lobi panjang dan voting yang cukup alot antar negara anggota," ujarnya.
Calon presiden APSF masih dalam tahap saling mengamati karena nominasi resmi akan dikeluarkan sekitar 30 hari sebelum pemilihan. Proses seleksi diperkirakan berlangsung pada awal Mei menjelang pertemuan di Solo.
Sukanti menjelaskan atlet Thailand yang seharusnya bertanding satu kelas justru membelah diri menjadi dua kelas berbeda untuk meraih dua emas. "Secara teknis hal ini belum diatur namun di tingkat federasi internasional sebenarnya tidak diperbolehkan," katanya.
Untuk ASEAN Paragames Nagoya, sistem kualifikasi berbeda dengan ASEAN karena hanya atlet lolos kriteria tertentu yang bisa bertanding. Ada tiga kriteria kelolosan yaitu eligible by merit, host country quota, dan wildcard.
"Eligible by merit diperoleh atlet yang memiliki nilai cukup dari kejuaraan cabang olahraga tunggal sebelumnya seperti kejuaraan dunia. Host country quota diberikan kepada tuan rumah agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri," ujarnya.
Wildcard menjadi hak negara yang sama sekali tidak memiliki atlet lolos untuk tetap bisa berpartisipasi. Sistem ini juga berlaku di tingkat Paralimpiade dunia untuk memastikan semua anggota IPC bisa bertanding.
"Indonesia perlu mengirim lebih banyak atlet ke kejuaraan pra-kualifikasi untuk memperbesar peluang lolos ke Nagoya," katanya. Thailand memiliki keunggulan sumber pendanaan beragam dari sektor swasta yang mendukung persiapan atlet.
Prestasi peringkat kedua di Thailand menjadi modal berharga meski ada catatan penyelenggaraan yang kurang memuaskan. NPC Indonesia akan fokus pada persiapan ASEAN Paragames Nagoya dengan sistem kualifikasi lebih ketat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....