Pemerhati Soroti Kenaikan Wisman Belum Cerminkan Kualitas Pariwisata Nasional

  • 18 Jul 2026 18:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pariwisata nasional.
  • Indonesia memang membaik, tetapi belum signifikan karena harus dibandingkan dengan sektor lain dan negara ASEAN
  • Penilaian keberhasilan pembangunan pariwisata nasiona harus mencakup lama tinggal wisatawan, besaran pengeluaran, kontribusi terhadap PDB, serta penciptaan lapangan kerja baru.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat Pariwisata Universitas Trisakti Prof. Azril Azahari mengatakan, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pariwisata nasional. Menurutnya, capaian tersebut perlu dibandingkan dengan indikator lain agar kemajuan sektor pariwisata dapat diukur secara komprehensif.

”Indonesia memang membaik, tetapi belum signifikan karena harus dibandingkan dengan sektor lain dan negara ASEAN,” kata Prof. Azril yang jugabKetua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) kepada Pro3 RRI, Sabtu, 18 Juli 2026.

Ia menggarisbawahi, jumlah wisatawan dan perolehan devisa tidak boleh menjadi ukuran tunggal keberhasilan pembangunan pariwisata nasional. Baginya, penilaian harus mencakup lama tinggal wisatawan, besaran pengeluaran, kontribusi terhadap PDB, serta penciptaan lapangan kerja baru.

“Jangan hanya melihat jumlah wisatawan dan devisa. Tetapi ukur juga kontribusi terhadap PDB serta multiplier effect,” ucapnya.

Azril menilai, pemerintah perlu menyusun pengukuran pariwisata berbasis pendekatan ilmiah yang dapat dibandingkan secara objektif. Menurutnya, evaluasi menyeluruh diperlukan karena dampak ekonomi sektor pariwisata terhadap masyarakat belum dihitung secara komprehensif hingga sekarang.

“Multiplier effect harus dihitung secara ilmiah. Sehingga klaim pariwisata sebagai motor ekonomi benar-benar memiliki dasar kuat,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya aspek keselamatan, keamanan, mitigasi risiko, serta evaluasi destinasi prioritas dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Menurutnya, pendekatan tersebut akan meningkatkan kepercayaan wisatawan sekaligus mendorong kunjungan berulang yang berkelanjutan.

Ia menilai, pengembangan pariwisata Indonesia harus berorientasi pada data yang komprehensif, comparable, serta mengikuti tren wisata berbasis minat khusus. Untuk itu, ia mendorong pemerintah mengevaluasi destinasi prioritas, menghitung daya dukung kawasan, dan memperkuat strategi pengembangan secara ilmiah.

"Konsep mengembangkan pariwisata itu harus dari bawah yaitu dari masyarakat. Hal ini diperlukan untuk pengembangan secara ilmiah,” katanya.

Selain mengembangkan konsep desa wisata, laniut dia, dapat melalui gagasan gastronomi, health tourism, dan ekonomi pariwisata berbasis komunitas. Menurutnya, pariwisata bukan sekadar menghadirkan wisatawan, melainkan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di sekitar destinasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....