Serap Keteguhan Prinsip Bung Karno, saat Napak Tilas DPRD DIY ke Bumi Rafflesia
- 12 Jun 2026 12:50 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bengkulu - Memperkuat dan menggelorakan semangat Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, momentum bulan Pancasila pada bulan Juni 2026 ini, Komisi A DPRD DIY melakukan kunjungan kerja historis ke Bengkulu. Perjalanan yang dikemas dalam napak tilas Sang Proklamator, Ir. Soekarno Bung Karno saat di pengasingan Bengkulu ini mengunjungi rumah pengasingan di Jl. Soekarno Hatta No.8, dan rumah Fatmawati Soekarno di Jl. Fatmawati No.10, Kota Bengkulu.
Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana mengatakan, napak tilas perjuangan Bung Karno selama masa pengasingan ini merupakan serangkaian tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi DPRD DIY. Pada bulan Pancasila ini, sekaligus diharapkan menjadi semangat untuk memperkuat nilai-nilai perjuangan dan semangat nasionalisme yang dibawa Bung Karno.
Guska menyebutkan, esensi utama dari napak tilas ini adalah menyerap keteguhan prinsip yang dipegang teguh dan tidak pernah padam, bahkan saat ruang geraknya dibatasi ketat oleh kolonial Belanda selama masa pengasingan di Bumi Rafflesia (1938–1942).
"Nilai semangat dari perjuangan beliau saat diasingkan dan dibatasi ruang geraknya, tetapi tetap teguh dalam pendirian dan prinsip, bahkan tetap menyebarkan ide-ide gagasannya, meski dalam ruang-ruang yang dibatasi. Ini suatu hal yang patut kita contoh," katanya, Kamis, 11 Juni 2026.
Kepada rombongan, Pengelola Operasional Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu, Safrida Hanum membeberkan fakta-fakta otentik mengenai keseharian dan strategi perjuangan Bung Karno selama empat tahun. Menurutnya, awal mula bangunan ini merupakan rumah sewaan milik warga Tionghoa yang dibangun tahun 1918 tersebut, dan di tempat ini Bung Karno tinggal bersama istri keduanya, Ibu Inggit Garnasih, serta kedua anak angkat mereka, salah satunya Ratna Djuami.
" Semua barang yang ada di dalam rumah ini seperti sepeda, kursi, meja, ranjang tidur, hingga buku-buku yang sering dibaca Bung Karno di ruang kerjanya semuanya masih asli peninggalan dari masa itu dan berasal dari Bengkulu," ucapnya.
Di dalam rumah ini dijelaskan Safrida, terdapat kostum yang dinamakan Kostum Monte Carlo, semasa pengasingannya, Bung Karno mendirikan sebuah grup musik sandiwara atau teater yang melibatkan masyarakat Bengkulu. Anggota teater tersebut di antaranya adalah Ibu Inggit dan Ibu Fatmawati.
Hanum juga menceritakan bagaimana Bung Karno mendobrak keterbatasan ruang gerak dengan mendirikan grup teater lokal bernama Monte Carlo. Melalui seni sandiwara inilah, nilai-nilai kebangsaan disebarkan kepada masyarakat Bengkulu.
"Pada waktu itu, Ibu Fatmawati belum menjadi istri Bung Karno, melainkan masih menjadi murid beliau. Ibu Fatmawati adalah sahabat dari anak angkat Ibu Inggit, yaitu Ratna Djuami. Dari kedekatan dan kegiatan teater inilah awal mula perkenalan antara Bung Karno dan Ibu Fatmawati terjadi," ucapnya, menjelaskan.
Selain seni teater hingga ide-ide gagasannya saat dipengasingan, Safrida menjelaskan, Bung Karno juga membangun sebuah masjid bernama Jami yang berada di Jl. Suprapto dan saat ini masih berdiri. Rumah pengasingan ini pun sempat ditinggalkan setelah Indonesia merdeka.
"Pemerintah mulai peduli dan mengambil alih untuk melakukan pemugaran (renovasi) secara berkala, dimulai sekitar tahun 1980-an. Renovasi meliputi penataan taman dan pemasangan pagar keliling (dulu rumah ini tidak berpagar dan menyatu langsung dengan jalan raya), bagian atap seperti genteng juga banyak yang diganti karena Bengkulu sering diguncang gempa bumi, pengecatan ulang juga dilakukan, namun bentuk, struktur, dan warna bangunan tetap dipertahankan keasliannya," ujarnya, menjelaskan.
Kini bangunan fisik berukuran 9 x 18 meter yang di dalamnya terdapat kursi tamu, sepeda onthel, kostum, dan beberapa surat penting, serta tempat tidur masih terjaga dengan baik. Sekaligus menjadi tempat untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda sebagai wisata sejarah.
" Jam Operasional buka dari jam 08.00 pagi sampai jam 16.0, setiap hari Senin tutup total. Jumlah Pengunjung pada hari biasa (weekdays), minimal ada sekitar 50 pengunjung per hari. Sedangkan pada akhir pekan weekend Sabtu-Minggu, jumlahnya bisa mencapai ratusan orang," ujarnya, menceritakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....