Kemenko PMK Perkuat Budaya Tangguh Bencana lewat Program SPAB
- 27 Mei 2026 11:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lilik Kurniawan mengatakan pemerintah memperkuat sinergi kebencanaan melibatkan kementerian, pemerintah daerah, sektor swasta, masyarakat, dan para ahli.
- Kemenko PMK mendorong program Satuan Pendidikan Aman Bencana melalui penguatan bangunan sekolah, manajemen risiko, serta edukasi kebencanaan terintegrasi.
- Pemerintah dan BMKG menekankan pentingnya simulasi kebencanaan dan pemahaman mitigasi gempa untuk mengurangi risiko korban jiwa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebencanaan. Sinergi tersebut melibatkan kementerian, pemerintah daerah, sektor swasta, masyarakat, serta para ahli kebencanaan di Indonesia bersama-sama.
"Jadi memang kami di Menko PMK berusaha untuk mensinergikan semua pihak. Tidak hanya pemerintah saja tetapi juga private sector, kemudian juga masyarakat sendiri dan juga para ahli," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 27 Mei 2026.
Ia mengatakan pemerintah saat ini terus mendorong program Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB nasional secara berkelanjutan. Program tersebut diperkuat pada sepuluh sekolah berisiko di kawasan Sesar Opak terkait peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta.
Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang didorong dalam penerapan program SPAB pada masing-masing sekolah nasional tersebut. Ketiga aspek tersebut mencakup penguatan fisik bangunan, manajemen risiko bencana, serta literasi dan edukasi kebencanaan nasional sekolah.
"Mulai dari penguatan fisik sekolah, bangunan sekolah, kemudian kaitan dengan manajemen risiko bencana di sekolah. Dan juga masalah literasi atau edukasi kebencanaan," ucapnya.
Ia menjelaskan modul kebencanaan telah terintegrasi dengan mata pelajaran lain dalam sistem pendidikan nasional Indonesia saat ini. Materi mengenai gempa bumi misalnya diajarkan melalui pelajaran geografi, IPS, dan IPAP kepada peserta didik nasional bersama.
Ia menjelaskan modul kebencanaan terintegrasi dengan pembelajaran sekolah nasional lainnya saat ini. Ia juga menilai integrasi tersebut membantu siswa memahami ancaman bencana sekaligus langkah penanganannya secara menyeluruh bersama-sama nantinya.
Menurutnya, simulasi kebencanaan menjadi bagian terpenting dalam program SPAB untuk memperkuat kesiapsiagaan sekolah nasional Indonesia saat ini. Melalui simulasi tersebut, sekolah diwajibkan memiliki rencana darurat menghadapi kemungkinan bencana sewaktu-waktu terjadi di lingkungan pendidikan.
"Begitu sekolah mau melakukan simulasi, dia harus punya rencana untuk emergensi yang ada di sekolah," katanya, menjelaskan. Ia menegaskan kesiapsiagaan mandiri sangat penting karena bencana datang cepat sementara bantuan pemerintah membutuhkan waktu penanganan lebih lama.
"Tidak mungkin kita ada bencana kemudian dari pemerintah pusat langsung datang ke sana. Itu tempatnya cukup jauh, butuh waktu lama, padahal bencana itu datang cepat sekali," ucapnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sleman berpartisipasi dalam kegiatan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006. Kegiatan dipusatkan di Monumen Episentrum Gempa Yogyakarta 2006 yang berlokasi di Dusun Potrobayan, Bantul, Sabtu, 23 Mei 2026.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Sleman Ardhianto Septiadhi menyampaikan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap potensi gempa bumi. Khususnya dalam langkah mitigasi menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.
| Baca juga: Gempa Magnitudo 2,4 Landa Keerom Papua |
"Memahami potensi gempa bumi dan dampaknya sangat krusial untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti, namun pemahaman yang baik memungkinkan masyarakat untuk melakukan mitigasi, dan mengenali tanda bahaya," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....