Bahlil Tegaskan Hilirisasi SDA Utamakan Kepentingan Negara Nasional

  • 30 Jan 2026 17:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pengelolaan sumber daya alam (SDA) harus memprioritaskan kepentingan negara. Ia menyampaikan prinsip tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dalam percepatan proyek hilirisasi nasional.

Bahlil mengatakan proyek ekosistem baterai di Indonesia mayoritas melibatkan BUMN dengan ANTAM sebagai pemegang saham utama. Ia menekankan, pengembangan industri harus berlandaskan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 demi kepentingan bangsa dan negara.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam kita, baik sekarang mau ke depan kita harus memprioritaskan kepentingan negara. Namun dalam proses industri nya kita juga sadar bahwa kita masih membutuhkan bantuan dari negara lain,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam kegiatan ‘Penandatanganan Framework Agreement Konsorsium ANTAM-IBI-HYD dalam Rangka Pengembangan Ekosistem Baterai Terintegrasi’ di Kantor ESDM, Jakarta Pusat, Jumat, 30 Januari 2026.

Ia mengakui Indonesia masih membutuhkan dukungan negara lain dalam teknologi, pasar, dan manajemen profesional. Ia menilai kolaborasi internasional tetap diperlukan selama memberikan manfaat lebih besar bagi negara.

Bahlil meminta investor memberikan nilai tambah maksimal dan melibatkan pengusaha daerah setempat. Ia menegaskan tenaga kerja lokal harus diprioritaskan selama mampu dikerjakan di dalam negeri.

“Pake tenaga kerja mereka, jangan bawa dari luar lagi karena kita pingin negara kita harus berdaulat untuk kepentingan bangsa negara. Yang bisa dikerjakan dalam negeri pake tenaga kerja dalam negeri, yang tidak bisa dikerjakan baru ambil dari luar,” ucapnya.

Ia menyampaikan lokasi pembangunan baterai mobil berada di Jawa Barat sesuai rencana pengembangan industri nasional. Ia menambahkan, sementara fasilitas smelter, prekursor, dan kawasan industri akan dibangun di Halmahera Timur Maluku Utara.

Bahlil juga menyebut proyek ini membuka peluang Indonesia menjadi negara kedua setelah China yang membangun ekosistem baterai terintegrasi. Ia menjelaskan ekosistem tersebut dirancang untuk mendukung baterai kendaraan listrik dan panel surya buatan asli Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....