Mi Instan Dicap Tak Sehat, Kok Tetap Jadi Makanan Favorit Dunia?
- 16 Jul 2026 14:06 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Mi instan sudah lama mendapat cap sebagai makanan yang tidak sehat. Kandungan garam, lemak, dan proses pengolahannya kerap dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit.
Namun, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Meski reputasinya buruk, mi instan justru semakin digemari di seluruh dunia. Hal ini terbukti dari berbagai proyeksi industri, nilai pasar mi instan global diperkirakan meningkat dari US$64,67 miliar atau setara Rp1,16 triliun pada 2025 menjadi sekitar US$98,46 miliar atau setara Rp1,77 triliun pada 2032.
Para ilmuwan memiliki penjelasan sederhana mengenai mengapa mi instan begitu digemari, yakni makanan ini sangat 'menggoda' otak.
Penelitian mengenai makanan ultra-proses menunjukkan bahwa kombinasi kalori tinggi, garam, lemak, karbohidrat, dan terkadang gula membuat mi instan memiliki tingkat hyperpalatability. Artinya, makanan tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga memicu keinginan untuk terus mengonsumsinya.
Tak heran jika banyak orang menganggap semangkuk mi instan sebagai makanan yang memberikan rasa nyaman, terutama saat sedang sibuk, lelah, atau ingin sesuatu yang praktis.
Menurut World Instant Noodles Association (WINA), tingginya konsumsi tidak lagi sekadar didorong faktor harga murah. Konsumen kini mulai beralih ke produk premium yang menawarkan kualitas dan nilai tambah.
Sementara di Amerika Serikat, tren makanan bercita rasa Asia dan mi pedas terus meningkatkan penjualan. Pada 2024, konsumsi mi instan di Negeri Paman Sam mencapai sekitar 5,15 miliar porsi, menjadikannya pasar terbesar keenam di dunia.
Data terbaru menunjukkan konsumsi mi instan global kini mencapai sekitar 123 miliar porsi setiap tahun. China menjadi konsumen terbesar dengan lebih dari 43,8 miliar bungkus per tahun. Indonesia berada di posisi kedua dengan sekitar 14,68 miliar porsi, disusul India dengan 8,32 miliar porsi.
Hampir 70 tahun sejak pertama kali diciptakan, fungsi mi instan ternyata tidak hanya sebagai makanan praktis. World Instant Noodles Association mencatat hingga Mei 2026, anggotanya telah menyalurkan sekitar 8 juta porsi mi instan dalam 53 misi bantuan bencana di berbagai negara.
Selain mudah didistribusikan, semangkuk mi hangat juga dianggap mampu memberikan rasa nyaman bagi para penyintas bencana. Mungkin itulah alasan mengapa, di tengah tren pola makan sehat yang terus berkembang, mi instan tetap bertahan sebagai salah satu makanan paling dicintai di dunia.
Sesekali menikmati mi instan memang bukan masalah. Yang terpenting adalah mengonsumsinya secara bijak dan tidak menjadikannya menu utama setiap hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....