Sleepwalking Bukan Mitos, Kenali Penyebab dan Gejala Somnambulism

  • 19 Jul 2026 12:06 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Pernah melihat atau mendengar seseorang tiba-tiba bangun dari tempat tidur, berjalan mengelilingi rumah, bahkan melakukan berbagai aktivitas tanpa benar-benar sadar? Fenomena tersebut bukanlah hal mistis ataupun sekadar kebiasaan unik. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai somnambulism atau sleepwalking, yaitu gangguan tidur yang membuat seseorang melakukan aktivitas ketika masih berada dalam kondisi tidur.

Mengutip Mayo Clinic, somnambulism lebih banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan menghilang seiring bertambahnya usia, terutama ketika anak memasuki masa remaja. Namun, apabila kebiasaan tidur sambil berjalan masih terus terjadi hingga dewasa atau justru baru muncul pada usia dewasa, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkaitan dengan gangguan tidur lain maupun masalah kesehatan tertentu yang memerlukan penanganan medis.

Somnambulism termasuk dalam kelompok parasomnia, yakni gangguan tidur yang ditandai dengan munculnya perilaku atau aktivitas yang tidak normal saat seseorang sedang tidur. Episode sleepwalking biasanya terjadi pada fase tidur nyenyak atau non-rapid eye movement (NREM), umumnya sekitar satu hingga dua jam setelah seseorang mulai tertidur.

Gejala sleepwalking dapat bervariasi pada setiap individu. Penderita dapat tiba-tiba bangun dari tempat tidur dan berjalan tanpa tujuan yang jelas, duduk dengan tatapan kosong, tidak merespons ketika diajak berbicara atau dipanggil, serta sulit dibangunkan. Setelah benar-benar terbangun, mereka biasanya tampak bingung selama beberapa menit dan pada keesokan harinya tidak mengingat sama sekali apa yang telah dilakukan saat episode sleepwalking terjadi.

Pada kondisi tertentu, aktivitas yang dilakukan saat sleepwalking bisa menjadi lebih kompleks. Seseorang dapat berpakaian, makan, berbicara, membuka pintu rumah, keluar rumah, bahkan dalam kasus yang sangat jarang, mengoperasikan kendaraan tanpa kesadaran penuh. Aktivitas tersebut tentu berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain apabila tidak segera ditangani dengan tepat.

Meskipun sebagian besar kasus sleepwalking tidak berbahaya dan akan membaik dengan sendirinya, frekuensi yang sering, durasi yang panjang, atau perilaku yang berisiko sebaiknya tidak diabaikan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, sekaligus menentukan langkah penanganan yang sesuai agar kualitas tidur tetap terjaga dan risiko cedera dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....