Picky Eater Bukan Sekadar Pilih-Pilih Makanan, Ini Faktanya

  • 18 Jul 2026 20:28 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Menghadapi anak yang sulit makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu sering kali menguras kesabaran orang tua. Banyak yang menganggap perilaku ini sebagai bentuk "manja" atau sekadar keras kepala.

Namun, dunia medis menegaskan bahwa kondisi picky eater atau pilih-pilih makanan merupakan fenomena tumbuh kembang yang jauh lebih kompleks dari sekadar preferensi rasa. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa picky eater sebenarnya memiliki definisi medis yang spesifik.

Anak yang dikategorikan sebagai picky eater umumnya masih mau mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan dari setiap kelompok nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, sayur atau buah, dan susu, namun mereka menolak mengonsumsinya dalam jumlah yang cukup. Kondisi ini sangat berkaitan dengan sensitivitas anak terhadap rasa dan tekstur makanan, bukan semata-mata karena mereka ingin melawan kemauan orang tua.

Dari sudut pandang global, riset yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Progress in Nutrition (PMC) bertajuk "Decoding Picky Eating in Children" mengungkapkan bahwa prevalensi picky eater secara global berkisar antara 13 hingga 50 persen, dengan puncak fase terjadi pada usia dua hingga enam tahun. Studi tersebut menegaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, mulai dari predisposisi genetik hingga hiper-sensitivitas sensori. Beberapa anak terlahir dengan reseptor rasa yang jauh lebih peka, sehingga makanan seperti sayuran hijau bisa terasa sangat pahit di lidah mereka.

Selain faktor biologis, pola asuh di meja makan juga memegang peranan krusial dalam membentuk atau memperpanjang fase ini. Studi klinis yang dirilis oleh National Institutes of Health (NIH) dalam A Correlational Study of Adult Picky Eating menyoroti fenomena "parental accommodation" atau sikap orang tua yang terlalu cepat menyerah dan langsung menuruti kemauan anak untuk bertahun-tahun. Peneliti menemukan bahwa pembiaran yang berlebihan dan kurangnya paparan berulang terhadap makanan baru justru berisiko membawa perilaku pilih-pilih makanan ini hingga anak beranjak dewasa.

IDAI menyarankan para orang tua untuk tidak lekas putus asa atau menggunakan jalan kekerasan dan paksaan saat anak menolak makanan baru. Berdasarkan panduan klinis mereka, memperkenalkan satu jenis makanan baru kepada anak idealnya membutuhkan proses paparan atau pengenalan secara konsisten sebanyak 10 hingga 15 kali sebelum anak benar-benar bisa menerimanya. Memaksa anak menghabiskan makanan justru memicu trauma psikologis yang memperparah penolakan tersebut.

Meskipun sebagian besar anak akan melewati fase picky eating seiring bertambahnya usia, kewaspadaan tetap diperlukan. Orang tua harus mencermati tanda-tanda bahaya (red flags), seperti penurunan berat badan yang drastis, keterlambatan tumbuh kembang, atau jika anak mulai menolak seluruh kelompok makanan (kondisi yang mengarah pada selective eater atau gangguan ARFID). Jika tanda-tanda ini muncul, intervensi medis dan konsultasi dengan dokter spesialis anak harus segera dilakukan.

Melalui pemahaman yang tepat mengenai fakta ilmiah di balik picky eater, masyarakat diharapkan tidak lagi memberi stigma negatif pada anak maupun menyalahkan pola asuh orang tua secara sepihak. Mengatasi anak yang pilih-pilih makanan bukanlah tentang memenangkan perdebatan di meja makan, melainkan membangun hubungan yang sehat antara anak dan makanan demi investasi kesehatan jangka panjang mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....