Sering Manikur: Alasan Kutikula Kuku Tidak Boleh Dipotong

  • 17 Jul 2026 17:35 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Manikur dan pedikur menjadi perawatan yang banyak diminati untuk membuat kuku tampak lebih bersih dan indah. Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa memotong kutikula saat perawatan kuku justru tidak dianjurkan oleh para ahli kesehatan kulit.

Dikutip dari laman rsud.bulelengkab.go.id, kutikula merupakan lapisan kulit mati berwarna putih yang mengelilingi pangkal dan sisi kuku jari tangan maupun kaki. Meski sering dianggap mengganggu penampilan, kutikula memiliki fungsi penting sebagai pelindung matriks kuku, yaitu bagian tempat kuku baru tumbuh. Lapisan ini membantu mencegah bakteri, jamur, dan kuman masuk ke dalam area tersebut sehingga mengurangi risiko infeksi.

Ketika kutikula dipotong atau dihilangkan, perlindungan alami kuku akan berkurang. Akibatnya, risiko infeksi seperti cantengan, infeksi jamur, hingga paronikia dapat meningkat. Paronikia ditandai dengan rasa nyeri, kemerahan, pembengkakan di sekitar kuku, munculnya nanah, hingga perubahan bentuk dan warna kuku. Selain itu, kebiasaan memotong kutikula juga dapat mengganggu pertumbuhan kuku sehingga muncul garis atau bintik putih pada permukaan kuku.

Meski tidak disarankan untuk dipotong, kutikula tetap perlu dirawat agar tidak kering dan pecah-pecah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merendam ujung jari dalam air hangat selama sekitar 10 menit. Langkah ini membantu melunakkan kutikula sehingga kuku tampak lebih bersih dan mudah dirawat.

Jika kutikula terlihat tebal, sebaiknya jangan dipotong. Gunakan alat khusus yang dikenal sebagai orange stick untuk mendorong kutikula secara perlahan ke arah pangkal kuku. Saat melakukan manikur atau pedikur di salon, Anda juga dapat meminta terapis agar tidak memotong kutikula, melainkan hanya merapikannya dengan lembut menggunakan alat tersebut.

Menjaga kelembapan kutikula juga menjadi langkah penting. Para dokter kulit menyarankan penggunaan pelembap, seperti krim, salep, atau petroleum jelly, untuk mencegah kutikula menjadi kering dan mengelupas. Pelembap dapat digunakan secara rutin pada siang maupun malam hari agar kesehatan kuku tetap terjaga.

Selain itu, hindari kebiasaan yang dapat membuat kutikula menjadi kering, seperti terlalu sering terkena deterjen atau menggunakan pembersih cat kuku yang mengandung aseton. Menggunakan sarung tangan saat mencuci piring serta memilih nail polish remover bebas aseton dapat membantu menjaga kelembapan kulit di sekitar kuku.

Kebiasaan menggigit kuku juga perlu dihindari. Selain merusak tampilan kuku, kebiasaan tersebut dapat memindahkan bakteri dari mulut ke area kuku sehingga meningkatkan risiko infeksi. Air liur juga dapat membuat kulit dan kutikula menjadi lebih kering.

Apabila muncul keluhan seperti nyeri, kemerahan, pembengkakan, atau keluar nanah di sekitar kuku, segera periksakan diri ke dokter spesialis kulit. Penanganan sejak dini penting dilakukan untuk mencegah infeksi semakin parah dan menjaga kesehatan kuku dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....