Antisipasi Penyakit Zoonotik, Pemkot Serang Gelar Lokakarya

  • 16 Jul 2026 16:25 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Bapperida Kota Serang menyelenggarakan lokakarya edukasi pencegahan penyakit zoonotik pada 16-17 Juli 2026.
  • Data Dinas Kesehatan Kota Serang tahun 2026 menunjukkan penyakit leptospirosis, flu burung, dan chikungunya masih nihil kasus, tetapi rabies telah mencapai 134 kasus gigitan.
  • Program serupa juga diselenggarakan di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Surabaya, dan Kabupaten Malang.

RRI.CO.ID, Serang - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Serang menggelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonotik di Gedung PKK Kota Serang, 16-17 Juli 2026. Acara ini digelar untuk mengantisipasi penularan penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis), seperti flu burung, rabies, antraks, dan leptospirosis.

Dalam agenda ini, Bapperida menggandeng Kementerian Kesehatan, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Pokja Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat (RCCE). Sejumlah dinas terkait dan insan media juga dilibatkan untuk menyamakan persepsi.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kota Serang, Shinta Dhamayanti menegaskan, penanganan penyakit menular tidak boleh terlambat.

“Langkah antisipasi tidak boleh menunggu sampai penyakit berkembang menjadi wabah. Saat situasi masih tenang seperti sekarang, koordinasi harus diperkuat agar potensi wabah bisa diredam sedini mungkin,” kata Shinta, Kamis, 16 Juli 2026.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Serang tahun 2026, penyakit seperti leptospirosis, flu burung (H5N1), dan chikungunya sebenarnya masih nihil kasus dan terkendali. Namun, yang perlu diwaspadai adalah laporan gigitan hewan penular rabies yang sudah mencapai 134 kasus, ditambah tren demam berdarah yang masih fluktuatif.

Medik Veteriner Ahli Muda Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Serang, Yance Ixwantoro, mengingatkan warga untuk mengenali modus penularan penyakit ini. Rabies, misalnya, menular lewat gigitan atau cakaran anjing, kucing, dan monyet. Langkah pencegahannya cukup dengan vaksinasi hewan peliharaan setahun sekali.

Sementara saat musim hujan, air kencing tikus yang bercampur genangan bisa memicu leptospirosis. Warga pun diminta selalu memakai alas kaki tertutup atau sepatu bot saat beraktivitas di area becek.

Lalu untuk flu burung dan antraks, penularannya biasa terjadi akibat kontak langsung dengan unggas atau ternak yang sakit.

“Jangan menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak. Jika menemukan kasus hewan mati mendadak, segera lapor ke UPTD Puskeswan Kota Serang,” tutur Yance.

Di sisi lain, peredaran hoaks terkait wabah juga menjadi sorotan dalam lokakarya ini. Petugas promosi kesehatan dan media dibekali kemampuan komunikasi interpersonal agar bisa menyampaikan informasi pencegahan yang akurat dan mudah dipahami.

Ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri menambahkan, masyarakat berhak mendapatkan informasi yang bisa menyelamatkan jiwa. “Agar informasi ini sampai ke pelosok, peran tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media sangat besar untuk mengubah perilaku warga,” ucapnya.

Program Manager, Portal Kesehatan Masyarakat, Basra Ahmad Amru menyampaikan, selain di Kota Serang, kegiatan serupa juga diselenggarakan di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Surabaya dan Kabupaten Malang.

“Penguatan jejaring kerja di daerah sangat penting agar pencegahan dan penanganan wabah penyakit zoonotik dapat berjalan efektif,” ujar Basra.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....