Waspadai Ebola, Gejalanya Mirip Flu

  • 14 Jul 2026 08:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Tenaga kesehatan menjadi salah satu kelompok beresiko, yang rentan terpapar Ebola. Kondisi ini perlu diwaspadai, setelah meningkatnya kewaspadaan global akibat temuan kasus impor Ebola di kawasan Eropa.

Apalagi kini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola varian virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat. Situasi itu, juga telah menjadi perhatian secara internasional.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY, Farindira Vesti Rahmasari menyebut ratusan korban meninggal setelah lebih dari 1.460 kasus Ebola terkonfirmasi. Tingkat kematian penyakit ini memang tinggi, dan telah lama menjadi perhatian dunia.

”Dari WHO juga menyebut Ebola termasuk penyakit berat dengan akibat sangat fatal,” katanya, Selasa, 14 Juli 2026. ”Tingkat kematiannya rata-rata sekitar 50 persen, meskipun pada berbagai wabah sebelumnya dapat berkisar antara 25 hingga 90 persen.”

Pada fase awal, seseorang yang terpapar Ebola mengalami berbagai kondisi, antara lain demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan. Gejala-gejala ini sering membuat seseorang terlambat menyadari bahwa dirinya terinfeksi Ebola.

”Karena gejala awalnya mirip flu, masyarakat sering kali menganggapnya sebagai penyakit biasa,” katanya. ”Padahal, setelah itu gejala dapat berkembang menjadi lebih berat.”

Seperti muntah, diare, nyeri perut, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga perdarahan. Perdarahan memang tidak selalu muncul, karena terjadi pada fase penyakit yang lebih lanjut.

Masa inkubasi Ebola berkisar antara dua hingga 21 hari, dengan gejala umumnya mulai muncul sekitar delapan hingga sepuluh hari setelah seseorang terpapar virus. Seseorang yang belum menunjukkan gejala umumnya belum menularkan penyakit tersebut.

Selain tenaga kesehatan, ada kelompok lain yang berisiko lebih tinggi terkena Ebola. Seperti anggota keluarga yang merawat pasien, petugas laboratorium, petugas pemulasaraan jenazah, hingga pelaku perjalanan dari wilayah terdampak.

”Terutama orang yang kontak dengan satwa liar berisiko, seperti kelelawar buah atau primata di daerah endemis,” ucapnya. ”Maka, kewaspadaan perlu ditingkatkan.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....