Guru Besar UMY Kembangkan Instrumen Resusitasi Etis
- 11 Jul 2026 18:17 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Anestesiologi UMY Profesor Ardi Pramono, mengenalkan skor FORREST (Futile for Resuscitation). Yaitu instrument untuk membantu pengambilan keputusan resusitasi pada pasien kritis.
Menurut Profesor Ardi, anestesiologi dan terapi intensif tidak lagi dipahami sebagai tindakan teknis medis. Disiplin ini, berkembang menjadi ilmu pengambilan keputusan klinis berbasis bukti, dalam pelayanan kesehatan modern.
| Baca juga: Penyintas Stroke Rentan Terkena Infeksi |
”Anestesiologi dan terapi intensif bukan sekadar cabang ilmu kedokteran yang bersifat teknis-prosedural,” katanya secara tertulis, Sabtu, 11 Juli 2026. ”Tetapi disiplin yang berdiri di persimpangan antara ilmu pengetahuan, pengambilan keputusan klinik, dan tanggung jawab etik terhadap kehidupan manusia.”
Ia juga menyoroti kemajuan teknologi kedokteran, yang memungkinkan berbagai fungsi tubuh pasien dipertahankan lebih lama. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan dilema etis, khususnya ketika pasien berada pada fase penyakit terminal, kanker stadium lanjut, atau mengalami kegagalan multi-organ.
Dalam situasi tersebut, tenaga medis tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan bagaimana menyelamatkan pasien. Tetapi juga apakah intervensi yang dilakukan masih memberikan manfaat klinis yang bermakna bagi kualitas hidup pasien.
“Resusitasi jantung paru merupakan contoh paling nyata dari dilema tersebut,” katanya. ”Pada kelompok pasien tertentu, tingkat keberhasilan resusitasi tetap rendah dan sering diikuti luaran neurologis yang buruk.”
Menurut Profesor Ardi, tindakan medis yang tidak lagi memberikan manfaat klinis bermakna, dikategorikan sebagai tindakan yang bersifat sia-sia. Maka, diperlukan instrumen untuk membantu nakes mengambil keputusan objektif dan berbasis bukti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....