Berpikir Positif Saja Belum Tentu Pulihkan Luka Emosional Seseorang

  • 10 Jul 2026 22:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Berpikir positif dan mengucapkan afirmasi kerap dianjurkan sebagai cara untuk membantu mengurangi stres, kecemasan, maupun kebiasaan overthinking. Namun, pendekatan tersebut dinilai tidak selalu cukup untuk mendukung proses pemulihan emosional. Para praktisi kesehatan mental menilai penyembuhan juga perlu melibatkan pemahaman terhadap respons tubuh dan pengalaman emosional yang tersimpan di dalamnya.

Dalam podcast BossMama, Integrative Somatic Healing Practitioner Raden Prisya menjelaskan bahwa banyak orang telah berusaha mengubah pola pikir menjadi lebih positif, tetapi tetap mengalami kesulitan untuk keluar dari masalah yang dihadapi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses penyembuhan mental tidak hanya bergantung pada cara seseorang mengelola pikirannya. "Kita sering kali diminta untuk mengarahkan pikiran menjadi positif atau menggunakan afirmasi yang baik. Tapi pernah enggak, sudah berusaha berpikir positif, tetap enggak bisa melakukan hal yang diinginkan?" ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, pembawa acara Shabrina Anggraini mencontohkan bahwa seseorang yang berusaha menghentikan overthinking justru sering kali mengalami pikiran yang semakin kuat dan sulit dikendalikan. Menanggapi hal tersebut, Raden Prisya menjelaskan bahwa pengalaman emosional tidak hanya tersimpan dalam pikiran, tetapi juga dapat terekam dalam respons tubuh sehingga memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap situasi tertentu. "Memori yang dipegang sama badan kita itu mostly bukan di kepala, tapi di badan," katanya.

Menurut Raden Prisya, proses penyembuhan mental sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dengan memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan tubuh. Ia menilai bahwa mengenali akar penyebab emosi yang muncul dapat membantu seseorang menemukan cara yang lebih tepat dalam mengelola stres maupun kecemasan, dibandingkan hanya memaksakan diri untuk selalu berpikir positif.

Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan penyembuhan yang berbeda sehingga tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua orang. Dengan memberikan ruang untuk memahami emosi, menerima respons tubuh, serta mencari penanganan yang sesuai, seseorang diharapkan dapat membangun kesehatan mental yang lebih baik dan menjalani proses pemulihan secara bertahap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....