Campak pada Anak: Penyebab, Gejala, Faktor Risiko, dan Pencegahannya

  • 13 Jul 2026 08:59 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID,Sintang - Sejak dahulu, campak dikenal sebagai salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak, terutama bayi dan balita. Meskipun sebagian masyarakat menganggap campak sebagai penyakit yang wajar dialami anak untuk membentuk kekebalan tubuh, kenyataannya penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan tepat.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ayosehat.kemkes.go.id), campak disebabkan oleh virus Morbillivirus yang termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini sangat mudah menular sehingga dapat menyebar dengan cepat, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Virus campak dapat menyebar melalui beberapa cara, yaitu:

  1. Percikan droplet (saliva). Saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, virus keluar bersama percikan air liur dan dapat terhirup oleh orang lain di sekitarnya.
  2. Kontak langsung. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang mengandung virus.
  3. Benda yang terkontaminasi. Virus campak mampu bertahan hidup di permukaan benda selama beberapa jam. Seseorang dapat terinfeksi apabila menyentuh benda yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Berdasarkan informasi dari Alodokter dan Halodoc, campak dapat menyerang siapa saja. Namun, beberapa kondisi berikut meningkatkan risiko seseorang terkena campak:

  1. Belum mendapatkan vaksinasi campak atau vaksin MMR secara lengkap.
  2. Bayi yang belum cukup umur untuk menerima vaksin campak.
  3. Tinggal serumah atau merawat penderita campak.
  4. Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya akibat HIV/AIDS, kanker, atau kondisi medis lainnya.
  5. Bepergian ke daerah atau negara dengan angka kejadian campak yang masih tinggi.
  6. Kekurangan vitamin A, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya gejala dan komplikasi yang lebih berat.

Gejala campak umumnya muncul sekitar 7–14 hari setelah seseorang terinfeksi virus. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu, seperti:

  • Demam tinggi yang dapat mencapai 40°C.
  • Batuk kering.
  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Lemas.
  • Mata merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya (konjungtivitis).
  • Hilang nafsu makan.
  • Diare atau muntah pada sebagian penderita.

Salah satu tanda khas campak adalah munculnya bintik Koplik, yaitu bintik-bintik putih kecil pada bagian dalam pipi yang biasanya muncul sebelum ruam kulit.

Beberapa hari kemudian, akan muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, lengan, hingga tungkai. Awalnya ruam berukuran kecil, tetapi lama-kelamaan dapat menyatu membentuk bercak yang lebih besar.

Pencegahan campak yang paling efektif adalah melalui imunisasi campak atau vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) sesuai jadwal yang dianjurkan. Selain itu, beberapa langkah berikut juga dapat membantu mencegah penularan:

  • Mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir.
  • Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin.
  • Menghindari kontak dekat dengan penderita campak.
  • Menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi, terutama yang mengandung vitamin A.
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak.

Apabila anak atau anggota keluarga mengalami demam tinggi disertai batuk, pilek, mata merah, dan muncul ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis), bahkan kematian, terutama pada bayi, balita, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....