Mengapa Belanja Online Bikin Kecanduan?
- 13 Jul 2026 15:28 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Belanja online kini menjadi aktivitas hiburan yang memicu pelepasan dopamin secara instan di dalam otak manusia. Hormon ini menciptakan rasa senang dan kepuasan sementara ketika kita berhasil menekan tombol beli. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam siklus belanja impulsif demi mengejar sensasi bahagia tersebut secara berulang.
Sensasi antisipasi saat menunggu paket datang ternyata melepaskan dopamin lebih tinggi daripada saat barang itu tiba. Proses menunggu ini memicu rasa penasaran dan gembira yang membuat sistem penghargaan otak terus aktif. Oleh karena itu, pengalaman digital sengaja dirancang untuk memperpanjang fase antisipasi yang adiktif ini.
Kemudahan akses melalui ponsel pintar membuat pemenuhan hasrat belanja dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Algoritma media sosial dan e-commerce juga terus menyajikan produk yang dipersonalisasi untuk memicu stimulus otak secara konstan. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat mengganggu kesehatan finansial sekaligus keseimbangan emosional seseorang.
Secara psikologis, dilansir dari situs Trotzke Sabtu (2 Mei 2026) belanja daring sering kali dijadikan sebagai pelarian instan dari rasa stres atau kebosanan sehari-hari. Fenomena yang dikenal sebagai retail therapy ini memberikan ilusi kendali ketika seseorang merasa jenuh dengan rutinitasnya. Namun, efek menenangkan tersebut biasanya memudar dengan cepat dan meninggalkan rasa bersalah setelahnya.
Untuk mengatasi kecanduan ini, penting bagi kita menerapkan metode jeda seperti aturan 24 jam sebelum melakukan transaksi. Menyadari trik pemasaran digital dan memahami cara kerja hormon dopamin dapat membantu kita berpikir lebih rasional. Dengan begitu, kita bisa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus menjadi budak dari dorongan kimiawi otak. (LPU_Aldi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....