Klinik Pijat Tunanetra Terus Melayani Warga Yogyakarta

  • 03 Jul 2026 20:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Klinik pijat yang dikelola terapis tunanetra di Kampung Timuran, Kalurahan Brontokusuman, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, terus bertahan memberikan layanan kesehatan alternatif bagi masyarakat. Di balik keterbatasan penglihatan, pemilik klinik, Ardi Nugroho, mampu membangun usaha terapi pijat secara mandiri selama belasan tahun dengan mengandalkan keterampilan dan pengalaman yang dimilikinya.

Ardi Nugroho mengatakan dirinya telah berkecimpung di dunia terapi pijat selama kurang lebih 23 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan terapi pijat di bawah naungan Dinas Sosial, ia sempat bekerja dengan orang lain untuk menambah pengalaman, memperluas jaringan pelanggan, sekaligus mengumpulkan modal sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri sekitar 14 tahun lalu. "Setelah pengalaman, modal, dan pasaran sudah ada, baru saya berani membuka usaha sendiri," ujarnya.

Klinik yang saat ini masih menempati bangunan sewa tersebut melayani pijat setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Ardi menyediakan dua ruang terapi yang dapat digunakan untuk melayani pelanggan pria maupun perempuan secara bergantian. Dalam sehari, rata-rata kliniknya menerima sekitar dua pelanggan, baik yang datang langsung maupun menggunakan layanan panggilan.

Selain melayani pijat di tempat, Ardi juga menyediakan layanan pijat panggilan ke rumah maupun hotel. Untuk layanan pijat di klinik yang sudah termasuk refleksi, tarifnya dipatok Rp100 ribu. Sementara layanan pijat panggilan ke rumah dikenakan biaya Rp100 ribu dengan fasilitas antar-jemput terapis, sedangkan layanan di hotel dikenakan tarif Rp150 ribu dengan sistem pelayanan yang sama.

Menurut Ardi, teknik terapi yang diterapkannya merupakan kombinasi dari berbagai metode yang dipelajari selama menjalani pendidikan. Ia menggabungkan sport massage, refleksi, shiatsu, serta beberapa teknik terapi lainnya agar proses penanganan menjadi lebih efektif tanpa mengurangi manfaat yang diperoleh pelanggan. "Kami mengombinasikan berbagai teknik supaya lebih ringkas, efisien, dan tetap memberikan hasil yang maksimal kepada pelanggan," katanya.

Ardi menjelaskan bahwa sport massage lebih difokuskan untuk mengatasi kelelahan otot maupun cedera ringan, sedangkan refleksi lebih diarahkan sebagai terapi pendukung untuk membantu mengurangi berbagai keluhan kesehatan. Menurutnya, seorang terapis harus mampu memahami kebutuhan setiap pelanggan sehingga teknik yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Ke depan, Ardi berharap dapat memiliki tempat usaha sekaligus rumah milik sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada bangunan kontrakan yang biaya sewanya terus meningkat setiap tahun. Dengan dukungan keluarga dan kepercayaan pelanggan, pria berusia 39 tahun yang telah dikaruniai tiga orang anak itu optimistis usahanya akan terus berkembang sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi penyandang tunanetra untuk berkarya secara mandiri. "Harapan saya tentu suatu saat bisa memiliki tempat sendiri sehingga tidak terus-menerus mengontrak," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....