Bahaya Mengorek Telinga, Dokter THT: Kotoran Telinga Pelindung Alami

  • 28 Jun 2026 22:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Kebiasaan mengorek telinga menggunakan cotton bud atau berbagai alat pembersih lain masih sering dilakukan masyarakat. Padahal, tindakan yang dianggap sebagai upaya menjaga kebersihan telinga tersebut justru berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari infeksi hingga robeknya gendang telinga.

Hal itu disampaikan dr. Novita Irawaty, Sp.THT-KL., M.Kes., S.H., Dokter Spesialis THT RSO Soeharso Surakarta, dalam program Obrolan Siang (OBSI) Pro 1 RRI Surakarta. Ia menjelaskan bahwa kotoran telinga atau serumen bukanlah sesuatu yang harus selalu dibersihkan karena memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami telinga.

"Selama ini kotoran telinga itu sebenarnya normal ada di dalam telinga kita. Dalam bahasa kedokteran disebut serumen. Itu adalah campuran sekresi kelenjar, partikel debu, dan sel kulit mati. Kalau jumlahnya normal, justru berfungsi sebagai pelindung liang telinga," ujar dr. Novita.

Menurutnya, serumen berfungsi melindungi telinga dari debu, benda asing, bakteri, dan jamur. Selain itu, serumen juga menjaga kelembapan liang telinga sehingga tidak mudah kering maupun mengalami iritasi.

Tubuh, lanjut dr. Novita, memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan serumen tanpa perlu dikorek. Pergerakan rahang saat berbicara atau mengunyah secara perlahan akan membantu mendorong serumen keluar menuju bagian luar telinga.

"Kita hanya boleh membersihkan serumen di bagian luarnya saja, tidak boleh sampai ke dalam," ucapnya.

Ia mengingatkan penggunaan cotton bud tidak selalu aman. Pada orang yang memiliki serumen bertekstur padat, penggunaan alat tersebut justru dapat mendorong kotoran semakin masuk ke dalam liang telinga hingga menimbulkan rasa penuh, pendengaran berkurang, bahkan nyeri.

Selain cotton bud, masyarakat juga diminta menghindari penggunaan benda-benda lain seperti peniti, jepit rambut, alat logam, maupun terapi ear candle. "Saya tidak menyarankan memakai alat-alat itu karena ujungnya tajam dan bisa melukai liang telinga. Bahkan ada pasien yang gendang telinganya robek akibat terlalu sering membersihkan telinga menggunakan alat pembersih," katanya.

Terkait metode ear candle, dr. Novita menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan terapi tersebut aman untuk membersihkan telinga. "Tidak ada studi yang menyatakan ear candle aman untuk membersihkan telinga. Justru bisa mendorong kotoran lebih dalam dan berisiko menyebabkan luka bakar," ucapnya.

Masyarakat juga diimbau tidak sembarangan menggunakan obat tetes telinga tanpa pemeriksaan dokter. Menurut dr. Novita, kondisi di dalam telinga tidak dapat dilihat sendiri sehingga diperlukan pemeriksaan oleh tenaga medis untuk menentukan penyebab keluhan dan terapi yang tepat.

Ia menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter spesialis THT apabila mengalami pendengaran menurun. Selain itu telinga terasa tersumbat, nyeri, berdenging, keluar cairan, vertigo, atau kotoran telinga yang sangat banyak dan tidak dapat keluar dengan sendirinya.

Selain itu, penggunaan earphone dalam waktu lama juga perlu dibatasi karena dapat menghambat keluarnya serumen secara alami. dr. Novita menyarankan penggunaan earphone tidak lebih dari 60 menit dengan volume maksimal sekitar 60 persen atau 60 desibel.

Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat mengubah anggapan bahwa telinga harus selalu bersih dari serumen. "Tidak semua kotoran telinga itu adalah musuh. Dalam jumlah normal, serumen merupakan pelindung alami yang membantu menjaga kesehatan telinga. Bersihkan telinga dengan bijak dan hindari kebiasaan mengorek telinga terlalu sering," kata dr. Novita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....