Silent Chest, Ancaman Tersembunyi pada Asma yang Bisa Berujung Kematian

  • 26 Jun 2026 04:38 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Beberapa masyarakat menganggap bunyi mengi atau napas berbunyi sebagai tanda paling berbahaya saat serangan asma terjadi. Namun ternyata ada kondisi yang jauh lebih serius, yakni silent chest, yang justru ditandai dengan hilangnya suara nafas pada penderita.

Dokter dari IDI Madiun, dr. Fadlia Yulistiana, Sp.P., M.Kes., FISR menjelaskan bahwa silent chest merupakan kondisi darurat yang terjadi ketika saluran nafas mengalami penyempitan sangat berat. Akibatnya, udara hampir tidak dapat masuk maupun keluar dari paru-paru sehingga suara nafas yang biasanya terdengar justru menghilang.

Menurut dr. Fadlia, banyak penderita maupun keluarga yang keliru menganggap kondisi tersebut sebagai tanda perbaikan. Padahal hilangnya suara mengi dapat menjadi sinyal bahwa serangan asma telah mencapai tingkat yang mengancam jiwa. Pada serangan asma ringan hingga sedang, penderita umumnya masih dapat mengeluarkan suara mengi saat bernapas. Namun ketika penyempitan saluran napas semakin berat, aliran udara menjadi sangat terbatas hingga tidak lagi menghasilkan bunyi napas yang terdengar.

“Yang gejala berat lagi, bunyi nafas ini malah tidak terdengar, namanya silent chest. Penyempitannya sudah sangat berat sehingga udara tidak bisa masuk dan dapat menyebabkan kematian mendadak,” ujar dr. Fadlia belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh menurun drastis. Jika tidak segera mendapat pertolongan medis, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran, gagal nafas, hingga kematian dalam waktu singkat. Silent chest menjadi salah satu alasan mengapa asma tidak boleh dianggap sebagai penyakit sesak napas biasa. Meski gejalanya dapat hilang dan muncul kembali, asma tetap merupakan penyakit inflamasi kronis yang berpotensi menimbulkan serangan berat sewaktu-waktu.

Selain mengenali tanda bahaya, penderita juga perlu menjalani pengobatan secara teratur sesuai anjuran dokter. Penggunaan obat pengontrol dan inhaler secara tepat dapat membantu mencegah penyempitan saluran napas yang berujung pada serangan berat. Dr. Fadlia menekankan bahwa penderita asma harus segera mencari pertolongan apabila mengalami sesak napas yang semakin berat, sulit berbicara, bibir membiru, atau merasa sangat lelah saat bernapas. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh mulai kekurangan oksigen akibat serangan asma yang tidak terkendali.

“Jangan menyepelekan asma karena ada kondisi yang disebut asma mengancam jiwa. Serangan berat bisa terjadi tiba-tiba dan membutuhkan penanganan medis segera agar tidak berakibat fatal,” tegasnya.

Melalui edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa silent chest merupakan kondisi kegawatdaruratan pada penderita asma. Mengenali gejalanya sejak dini dapat menjadi langkah penting untuk menyelamatkan nyawa penderita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....