DBD Cerminan Krisis Ekologi

  • 24 Jun 2026 11:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih jadi tantangan kesehatan masyarakat Indonesia. Meski berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini tetap muncul.

Guru Besar Bidang Parasitologi UMY, Profesor Tri Wulandari Kesetyaningsih mengajak masyarakat, agar tidak semata melihat DBD sebagai penyakit infeksi. Namun juga akibat persoalan ekologis yang lahir dari interaksi kompleks antara manusia, lingkungan, dan vektor penyakit.

Sejak pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968, kasus DBD terus muncul setiap tahun, dan telah menyebar hampir ke seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian DBD belum optimal.

”Idealnya, pengendalian tidak cukup hanya pada pengobatan pasien maupun pemberantasan nyamuk semata,” katanya. ”Sebab, Nyamuk Aedes telah beradaptasi untuk hidup sangat dekat dengan manusia, yang mendukung perkembangan nyamuk.”

Penyakit DBD, tumbuh di ruang-ruang yang diciptakan manusia. Yaitu di genangan air yang diabaikan, di kepadatan kota yang tidak terkelola dengan baik. Termasuk dalam kondisi perubahan iklim yang semakin nyata.

Maka, Profesor Tri Wulandari mengajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam pengendalian DBD. Yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Selain faktor lingkungan, perubahan iklim juga menjadi tantangan yang semakin memperbesar risiko penyebaran DBD. Variabel iklim seperti suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh langsung terhadap siklus hidup nyamuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....