Epidemiolog Sebut Ebola Tak Semudah Covid-19 Jadi Pandemi Global

  • 23 Mei 2026 11:23 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Wabah Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah World Health Organization atau WHO menetapkan situasi di Uganda dan Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.

Meski demikian, epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai Ebola tidak semudah Covid-19 berkembang menjadi pandemi global karena memiliki pola penularan yang berbeda.

Menurut Dr. Dicky, Ebola tidak menyebar melalui udara bebas seperti virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Penularannya membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, muntahan, air liur, maupun cairan tubuh lainnya.

Karena mekanisme penularannya lebih terbatas, penyebaran Ebola cenderung lebih lambat dibandingkan penyakit pernapasan seperti Covid-19 atau influenza.

“Ebola tidak menular melalui udara bebas seperti Covid-19. Penularannya membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita,” ujar Dr. Dicky.

Ia menjelaskan, Ebola juga memiliki angka reproduksi atau reproduction number (R0) yang relatif rendah. Secara historis, satu pasien Ebola rata-rata hanya menularkan virus kepada satu hingga dua orang lain.

Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan Covid-19 varian Omicron maupun campak yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi.

Selain itu, wabah Ebola dinilai lebih mudah dikendalikan apabila terdeteksi lebih cepat melalui pelacakan kontak, isolasi pasien, serta pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan.

Meski peluang menjadi pandemi global lebih kecil, Dr. Dicky mengingatkan Ebola tetap merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian tinggi.

Menurutnya, tingkat fatalitas Ebola dapat mencapai 25 hingga 90 persen, tergantung jenis strain virus dan kesiapan sistem layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Dalam sejarahnya, wabah Ebola besar pernah melanda sejumlah negara di Afrika Barat seperti Sierra Leone, Liberia, dan Guinea pada 2014 hingga 2016 dan menyebabkan ribuan kematian.

Dr. Dicky menilai risiko global saat ini meningkat akibat tingginya mobilitas internasional, urbanisasi, konflik bersenjata, serta lemahnya sistem kesehatan di sejumlah wilayah wabah.

Ia juga menyoroti perubahan pola outbreak Ebola yang kini mulai masuk ke kawasan perkotaan dan pusat mobilitas masyarakat, berbeda dengan wabah sebelumnya yang dominan terjadi di daerah pedesaan terpencil.

Karena itu, pemerintah Indonesia diminta tetap waspada dengan memperkuat surveillance epidemiologi di bandara, pelabuhan, dan pintu masuk internasional lainnya.

Selain pengawasan, kesiapan laboratorium, rumah sakit rujukan, alat pelindung diri (APD), serta pelatihan tenaga kesehatan juga perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi kemungkinan kasus masuk ke Indonesia.

Dr. Dicky menegaskan bahwa pelajaran dari pandemi Covid-19 menunjukkan keterlambatan respons dapat memperburuk situasi wabah.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman penyakit menular di masa depan tidak hanya berkaitan dengan faktor medis, tetapi juga dipengaruhi perubahan iklim, kerusakan lingkungan, eksploitasi hutan, hingga meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar.

Karena itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menghadapi ancaman wabah global di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....