WHO Ingatkan Bahaya Hantavirus, Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus
- 21 Mei 2026 09:30 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - World Health Organization atau WHO mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membersihkan kotoran tikus karena dapat meningkatkan risiko penularan hantavirus. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius.
WHO menyebut hantavirus umumnya menyebar melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Virus juga dapat menyebar ke udara ketika partikel kotoran atau urine tikus yang mengering terganggu saat dibersihkan.
Karena itu, masyarakat diminta menghindari membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu atau menggunakan vacuum cleaner. Cara tersebut dinilai dapat membuat partikel virus beterbangan di udara dan berisiko terhirup manusia.
Sebagai langkah pencegahan, WHO membagikan tujuh cara untuk membantu menekan risiko penyebaran hantavirus. Langkah tersebut meliputi menjaga rumah dan tempat kerja tetap bersih, menutup celah masuk tikus, menyimpan makanan dengan aman, serta membersihkan area terkontaminasi dengan cara yang benar.
WHO juga menyarankan agar area yang terkontaminasi dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan guna mengurangi risiko partikel virus menyebar ke udara. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan juga dinilai penting untuk membantu mencegah infeksi.
Peringatan serupa disampaikan Centers for Disease Control and Prevention atau CDC. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa partikel virus dapat menyebar ke udara ketika urine atau kotoran tikus kering terganggu.
Menurut CDC, hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada paru-paru dan ginjal. Di wilayah Amerika Utara dan Selatan, beberapa jenis hantavirus diketahui dapat memicu hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yaitu gangguan paru berat dengan tingkat kematian mencapai sekitar 40 persen.
Gejala awal hantavirus umumnya menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan. Dalam kasus yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas serius yang membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.
Peneliti dari Vaccine and Infectious Disease Organization University of Saskatchewan, Bryce Warner, mengatakan hingga kini belum ada obat khusus maupun vaksin yang tersedia secara luas untuk hantavirus.
Menurutnya, penanganan pasien saat ini lebih difokuskan pada terapi suportif seperti pemberian oksigen, cairan, hingga bantuan ventilator apabila pasien mengalami gangguan pernapasan berat.
Sementara itu, penelitian vaksin hantavirus masih terus dilakukan di berbagai negara. Associate professor kimia University of Bath, Asel Sartbaeva, mengatakan pengembangan vaksin selama ini berjalan lambat karena minimnya kepentingan komersial.
Meski begitu, sejumlah lembaga riset dan perusahaan farmasi, termasuk Moderna, diketahui tengah mengembangkan kandidat vaksin hantavirus bersama lembaga penelitian lainnya.
WHO menegaskan bahwa risiko kesehatan masyarakat akibat wabah hantavirus yang dikaitkan dengan MV Hondius saat ini masih tergolong rendah. Namun, pemantauan tetap dilakukan secara ketat karena kemungkinan adanya tambahan kasus masih bisa terjadi.
Masyarakat diimbau tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, serta segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....