Subvarian Baru Ebola Diwaspadai, Pakar Sebut Risiko Global Masih Rendah
- 21 Mei 2026 09:29 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kemunculan dugaan sublineage atau subvarian baru virus Ebola menjadi perhatian di tengah wabah yang terjadi di Uganda dan Kongo. Para ahli mengingatkan bahwa meski temuan tersebut masih bersifat awal, kewaspadaan global tetap diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Epidemiolog dari Griffith University dan Sekolah Pascasarjana Universitas Yarsi, Dicky Budiman, mengatakan dugaan subvarian baru itu berasal dari Bundibugyo Ebola virus (BDBV), salah satu strain Ebola yang relatif jarang ditemukan dibandingkan Zaire Ebola virus.
Menurut Dr. Dicky, kemungkinan tersebut mengindikasikan adanya divergensi genetik atau perubahan pada virus yang beredar dibanding strain Bundibugyo sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa temuan tersebut masih berupa preliminary finding atau temuan awal dan belum mendapatkan konfirmasi penuh dari World Health Organization atau WHO.
| Baca juga: Manfaat Daun Jarak Dan Efek Samping |
“Mutasi bukan berarti otomatis virus menjadi lebih mematikan atau lebih menular,” ujar Dr. Dicky.
Ia menjelaskan, hingga kini belum ada publikasi genom lengkap yang telah melalui proses peer review maupun bukti ilmiah definitif yang menunjukkan peningkatan kemampuan penularan, tingkat keganasan, atau kemampuan virus lolos dari sistem kekebalan tubuh.
Meski demikian, kemunculan kemungkinan perubahan genetik pada Bundibugyo Ebola virus tetap menjadi perhatian karena strain tersebut belum banyak dipelajari dan belum memiliki vaksin yang berlisensi luas seperti strain Ebola lainnya.
Dr. Dicky menilai kekhawatiran terbesar saat ini justru berasal dari kondisi wilayah wabah yang dinilai menjadi “perfect storm” epidemiologi. Wabah Ebola terjadi di daerah dengan konflik bersenjata, mobilitas penduduk tinggi, aktivitas pertambangan, serta sistem kesehatan yang masih lemah.
Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan, penyebaran hoaks, dan keterbatasan akses laboratorium turut memperburuk upaya pengendalian wabah.
Menurutnya, Ebola secara historis lebih mudah dikendalikan ketika wabah terjadi di wilayah pedesaan yang relatif terisolasi. Namun kini situasi berubah karena penyebaran sudah memasuki kawasan perkotaan dengan mobilitas regional yang tinggi.
Kondisi urban outbreak atau wabah di perkotaan dinilai meningkatkan risiko penyebaran karena kepadatan penduduk lebih tinggi, pelacakan kontak lebih sulit dilakukan, dan fasilitas kesehatan lebih mudah mengalami kelebihan kapasitas pasien.
Meski situasi dinilai serius, Dr. Dicky menegaskan Ebola tetap tidak semudah Covid-19 berkembang menjadi pandemi global. Ebola bukan penyakit airborne utama karena penularannya membutuhkan kontak erat dengan darah atau cairan tubuh penderita.
Selain itu, angka reproduksi Ebola atau reproduction number (R0) relatif rendah, yakni sekitar satu hingga dua. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan Covid-19 maupun campak yang memiliki tingkat penularan jauh lebih cepat.
Namun demikian, tingginya mobilitas manusia antarnegara membuat risiko penyebaran lintas wilayah tetap perlu diantisipasi, termasuk oleh Indonesia.
Dr. Dicky mengingatkan pemerintah agar memperkuat surveillance epidemiologi di bandara, pelabuhan, dan pintu masuk internasional lainnya. Kesiapan laboratorium, rumah sakit rujukan, alat pelindung diri (APD), serta pelatihan tenaga kesehatan juga perlu terus ditingkatkan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari sumber kesehatan terpercaya. Menurutnya, ancaman kesehatan global ke depan tidak hanya berkaitan dengan virus, tetapi juga dipengaruhi perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan tingginya mobilitas manusia di dunia modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....