Fenomena “Brain Rot” dan Dampaknya bagi Generasi Muda
- 17 Mei 2026 12:14 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Istilah brain rot atau “pembusukan otak” belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama di kalangan generasi muda gen Z dan gen Alpha. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi saat seseorang terlalu sering mengonsumsi konten pendek dan hiburan digital secara berlebihan.
Menurut laporan Oxford University Press, istilah brain rot bahkan sempat masuk dalam daftar kata paling popular sejak tahun 2025. Penggunaan istilah itu meningkat tajam karena banyak dipakai dalam percakapan di TikTok, X, dan platform digital lainnya.
Fenomena tersebut berkaitan dengan kebiasaan doom scrolling atau terus menggulir media sosial tanpa henti. Aktivitas itu dinilai dapat membuat otak terbiasa menerima hiburan cepat dalam durasi singkat.
Peneliti dari Harvard Medical School menyebut konsumsi konten digital berlebihan dapat memengaruhi fokus, kualitas tidur, hingga kesehatan mental seseorang. Meski bukan kondisi medis resmi, istilah brain rot dianggap menggambarkan perubahan pola perhatian masyarakat modern.
Fenomena ini semakin sering dikaitkan dengan video berdurasi pendek seperti TikTok, Reels, dan Shorts. Banyak pengguna media sosial mengaku menjadi lebih sulit fokus saat membaca buku atau menonton video panjang.
Laporan BBC News juga menyebut generasi muda kini menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengonsumsi konten singkat di ponsel. Kebiasaan tersebut dinilai dapat memengaruhi pola konsentrasi dan produktivitas. Dampak negatif biasanya muncul ketika konsumsi konten dilakukan secara berlebihan tanpa jeda istirahat yang cukup.
Untuk mengurangi efek brain rot, beberapa psikolog menyarankan masyarakat mulai membatasi waktu layar atau melakukan digital detox. Aktivitas seperti membaca, olahraga, dan tidur cukup disebut membantu menjaga fokus otak tetap stabil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....