Bukan Penyebab Utama, namun Pola Asuh Berperan Penting pada Gangguan Bicara Anak

  • 29 Apr 2026 14:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Gangguan bicara pada anak atau speech delay sering menjadi kekhawatiran besar bagi orang tua. Dalam program siaran di RRI Madiun yakni Ruang Disabilitas dan Inklusi, Terapis sekaligus Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Needs, Arif Budhi Santoso, menjelaskan bahwa meskipun pola asuh bukan merupakan penyebab tunggal dan utama, namun peran lingkungan keluarga sangat krusial dalam menstimulasi kemampuan verbal anak.

“Jadi pola asuh itu bukan satu-satunya penyebab ataupun bukan penyebab utama yang menyebabkan anak mengalami space delay. Karena kan memang buktinya juga ada anak-anak yang pola asuhnya baik, kemudian diperhatikan dengan seksama tumbuh kembangnya serta segala aspek kesehatannya tetap ada yang mengalami space delay, autism dan sebagainya,” jelas Arif kepada RRI Madiun.

Pergeseran model pola asuh saat ini juga menjadi tantangan besar menurut Arief. “Adanya perbedaan yang sekaligus menjadi tantangan dalam pola asuh antar generasi saat ini. Jika zaman dahulu stimulasi dilakukan secara natural melalui nyanyian doa, nembang, dan atau mendongeng yang disertai komunikasi verbal intens, sehingga anak diajak bicara, berekspresi, sehingga relasi terbangun baik,” ungkap Arif.

Sedangkan pola asuh saat ini yang terjadi yakni minimnya interaksi dua arah. “ Ada kemudahan teknologi sekarang ini, akhirnya membuat anak untuk jarang diajak bicara, dibacakan buku, atau diajak bermain bersama, hal - hal ini akhirnya perkembangan bahasa anak," jelas Terapis anak itu.

Penggunaan gawai juga menjadi hal yang disoroti oleh Arif yang saat ini semakin masif terlebih dalam dua dekade terakhir. Ketika seorang anak atau orang dewa menggunakan gawai atau melihat suatu tontonan melalui layar sering kali bersifat satu arah.

Lebih lanjut, hal itu yang membuat anak hanya menjadi penerima informasi pasif tanpa kemampuan merespon secara aktif bahkan ekspresif. "Anak mungkin paham perintah, tapi untuk bisa meresponnya umumnya minim bahkan mereka juga bisa meniru apa yang dilihat dan didengarkan,” ucapnya.

Akibatnya, meskipun anak paham instruksi akan tetapi kemampuan merespon, dan berbicara lebih komunikatifnya tidak ada. Selain itu, kebiasaan orang tua yang terlalu dan selalu melayani, sehingga setiap kebutuhan anak tersedia bahkan sebelum anak menyampaikannya sendiri, menjadi faktor yang membuat anak kehilangan motivasi untuk berkomunikasi.

Sikap terlalu cuek bahkan menyepelekan atau menganggap wajar ketika anak mengalami keterlambatan bicara juga menjadi alasan lain terjadinya gangguan bicara pada anak menurut Arif. “Sering kali keluarga menganggap wajar keterlambatan bicara dengan alasan genetik, seperti dahulu ayah atau ibunya juga telat bicara kok, nah ini jangan sampai orang tua terjebak pola pikir ini,” tegas Arif.

Orang tua seolah melakukan pembenaran masa lalu, atau membandingkan apa yang terjadi pada masa silam, ini harus dihindari. Arif menegaskan jika sudah terlihat gejalanya maka penting untuk segera mencari intervensi profesional, terlebih jika pada usia 2 tahun anak belum bisa berkomunikasi dua arah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....