Hilangkan Kesalahan Persepsi tentang Autisme yang Masih Sering Terjadi
- 22 Apr 2026 17:40 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kesalahpahaman tentang autisme masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang paling sering terjadi adalah anggapan bahwa penyandang autisme berbahaya atau sulit dikendalikan. Padahal, tidak semua perilaku yang berbeda dapat langsung disimpulkan seperti itu.
Dalam banyak kasus, masyarakat sering terburu-buru memberikan label tanpa memahami kondisi yang sebenarnya. Bahkan, istilah seperti “autis” atau “ODGJ” kerap digunakan sebagai bahan candaan. Hal ini tentu sangat disayangkan karena dapat melukai perasaan dan memperkuat stigma negatif.
Fenomena ini menunjukkan tingkat literasi masyarakat tentang kesehatan mental dan perkembangan anak masih perlu ditingkatkan. Banyak orang belum memahami bahwa autisme adalah kondisi perkembangan saraf, bukan gangguan yang membuat seseorang menjadi berbahaya.
| Baca juga: Kalori: Bukan Musuh, tapi Harus Dipahami |
Menurut World Health Organization (WHO), autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan berinteraksi sosial, serta ditandai dengan pola perilaku tertentu. WHO juga menegaskan bahwa individu dengan autisme memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan.
Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa autisme bukanlah penyakit menular atau kondisi yang disebabkan oleh pola asuh tertentu. Artinya, stigma yang berkembang di masyarakat sering kali tidak berdasarkan fakta ilmiah.
Dari sisi keluarga, tantangan lain juga sering muncul. Tidak sedikit orang tua yang merasa bingung atau bahkan menolak ketika menyadari anaknya memiliki perbedaan. Penolakan ini sering kali terjadi karena kurangnya informasi dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Padahal, langkah awal yang paling penting adalah menerima kondisi tersebut. Dengan penerimaan, orang tua bisa lebih mudah mencari bantuan profesional dan memberikan dukungan terbaik bagi anaknya. Tanpa penerimaan, proses perkembangan anak justru bisa terhambat.
Kesalahan persepsi juga sering muncul dari informasi yang tidak akurat di media sosial. Banyak konten viral yang tidak memberikan penjelasan yang benar, sehingga masyarakat semakin mudah terpengaruh dan ikut menyebarkan stigma.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk lebih kritis dalam menerima informasi. Edukasi yang benar, empati, serta penggunaan bahasa yang tepat menjadi kunci dalam menghapus stigma terhadap autisme. Dengan begitu, masyarakat bisa menjadi lebih inklusif dan saling menghargai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....